R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Sajak”

Dibalik kebisuanmu

Perciklah aku dengan tanda atau kata.

Wahai, kau yang membayang diatas air sungai,

Bayangmu begitu dingin menghantam sisa pohon yang tumbang.

Sesaat pun tiba pohon tak berguna itu meronta letih,

dan membunuhku pelan.

Diujung muara yang tak akan pernah bisa ku temukan.

Pambudi Nugroho – Kemarau di bulan September 2011

Iklan

Nyanyi Bisu Sang Kemarau

Malam larut.

Jangkrik berpantun dengan katak.

Rumput tertindih embun.

Belut merayap ke bibir sawah.

Pinggir kota yang jejal.

Senyap.

(tiba-tiba, bunyi membelah malam tak lagi lengang. Ada nada hangat dibawah bukit hijau) Baca lebih lanjut…

Sajak – sajak artis tua

Pada suatu pagi aku tertidur.

Sayup ketukan langkahmu hinggap dibunga tidurku.

Lebih lembut dari jam dinding stasiun.

Waktu itu, ku basuh wajahku kering oleh rindu.

Pada tepian sungai yang tak kukenal,

Bayangmu hadir.Tercengang aku, kau begitu baik menyapa ; Hai..

Tiba-tiba terasa daun lepas dari dahannya.

Gemuruh angin menerpa lembar demi lembar almanak. Baca lebih lanjut…

Selamat Jalan Dua Sahabat Lama

Adalah teman anda, sahabat kita, dua sahabat yang menjadi legenda, dua titipan Sang Pencipta.

Sahabat kita yang pertama Mbah Surip, diakhir hayat adalah sosok tua yang berhasil menjadi ikon kejujuran bagi masyarakat. Tanpa sadar orang mengelu-elukan dia, bukan karena faktor lagunya semata atau penampilannya yang nyentrik. Masyarakat sebenarnya lebih tertarik pada penampilan mbah surip yang apa adanya. Jujur dan tidak terkesan mengada-ada.

Meski kejujurannya tersebut, mbah Surip terkesan ngomongannya ngelantur dan sulit dipegang. Tetapi orang tidak peduli tentang omongan itu. Ia tidak terjebak pada kemapanan status menjadi selebritis baru, ketika penampilan sederhananya ternyata mampu menghasilkan rupiah. Ia tetap seperti yang dulu, sebagai seniman yang kental dengan kerakyatan.

Lalu sahabat kita yang kedua W.S. Rendra, penyair yang dijuluki “Si Burung Merak” Akibat sakit, Rendra tidak mengikuti prosesi pemakaman sahabatnya, Mbah Surip yang dimakamkan di Bengkel Teater yang dikelolanya, ia langsung menyusul sahabatnya untuk menghadap sang Pencipta.

Pada Tahun 1996, saya merasa beruntung ketika saya mendapatkan kesempatan mengenal langsung mas Willy (Rendra ) pada waktu itu dari Yayasan Komunikasi Masyarakat PGI ( Yakoma ) asuhan Bapak Indra Nababan dan Arthur J Horoni ( Dramawan & mantan Bengkel Muda Surabaya tahun 70-an) mengirim beberapa perwakilan pemuda gereja untuk mempelajari dasar Teater di bengkel Teater Rendra Cipayung Depok.

Saya bertatapan langsung dengan beliau dan mendengarkan pengalaman berharganya, ia bercerita bagaimana caranya merekrut anak asuhannya yang kebanyakan dari komunitas “orang terbuang” atau kaum muda jalanan, untuk dididik dibengkel teaternya dan mampu mandiri menjadi seniman yang berkualitas.

Dalam mengikuti proses latihan di padepokan Rendra, saya mengamati di area tanah padepokan milik Rendra yang luas itu, anak asuhannya tak hanya belajar tentang teateral, tetapi mereka diajarkan berkebun, memelihara ikan, bercocok tanam dan hasilnya itulah yang mereka makan dalam hidup sehari-hari. Penuh dengan kesederhanaan.

Anak asuhan yang kini ditinggal sang Legenda itu, saya selalu menempatkan diri untuk berdiskusi pada saat istirahat latihan. Mereka hidup sebagai seniman yang peka terhadap kerendahan hati dan kesederhanaan. Tidak bermegah diri, dan memang ingin menjalani kehidupan apa adanya.

Itulah mengapa menurut saya, kedua sahabat lama kita itu, begitu dicintai oleh masyarakat luas. Dedikasi mereka tak terjebak pada popularitas, tetapi bagaimana menjadi setia dalam seni dan memberi peran kepada orang lain, agar keberadaannya menjadi keberadaan kita pula, dan dua sahabat itu sudah membuktikannya.

Selamat Jalan dua Sahabat Lama…

Post Navigation