R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Religion”

Belajar Dari Krisis Cinta

18072009334Tersebutlah satu kisah kehidupan dua sosok manusia dalam sebuah peristiwa parodi, yang akan menjadi perjumpaan kita pada kesempatan tulisan saya kali ini.

Sebut saja dua manusia itu Pam dan Budi, adalah dua orang petani yang tinggal berdekatan disebuah perkampungan ramai. Walaupun sama-sama petani dan hidup bertetangga, sikap keduanya sangat jauh berbeda. Satu sore, sapi kepunyaan Pam menyenggol pagar kebun Budi, hingga beberapa batang pohon jagung roboh.

Sebenarnya hanya kejadian kecil,dan Pam sudah meminta maaf serta memperbaiki kerusakan itu. Namun, sikap negatif yang dimiliki Budi membuatnya yakin bahwa tetangganya itu sengaja menyuruh sapi-sapinya merusak kebun, karena iri dengan tanamannya yang lebih subur. Baca lebih lanjut…

Iklan

Terima Kasih dan Penghargaan

award2 “Terima kasih Dika”, adalah kata-kata sederhana yang saya sampaikan kepada seorang sobat di dunia maya ini, yang sudah memberikan sebuah penghargaan.  Dan saya berharap Dika yang tak pernah saya kenal itu, pun tetap memiliki impian dan motivasi untuk terus berkarya dan menulis.

Terima kasih, salah satu cara yang paling sederhana tapi efektif dalam menjalin hubungan, adalah melalui pernyataan rasa terima kasih dan penghargaan. Ungkapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tidak dibuat-buat memberikan dampak yang besar bagi orang yang menerimanya. Baca lebih lanjut…

Menjadi Sayap Bagi Orang Lain

kupu - kupuPernahkah anda kesepian ? Bagaimana suasana hati anda ketika itu? Kelabu dan dingin? Lalu bayangkan, dalam suasana begitu, tiba-tiba seseorang hadir dan membuat hati anda hangat dan bahagia. Rasanya wow…sungguh menyenangkan.

Kalau ada seseorang yang istimewa menyentuh kehidupan kita, maka tiba-tiba kita akan melihat betapa sebenarnya dunia bisa menjadi sangat indah dan berarti.

Orang lain menunjukkan kepada kita bahwa harapan dan impian khusus kita bisa membawa kita jauh-jauh, dengan membantu kita melihat kedalam dan mempercayai siapa diri kita. Kalau orang yang istimewa itu menyentuh kehidupan kita, maka mereka mengajarkan bagaimana caranya hidup.

Hubungan yang terjalin harusnya memang seperti itu. Karena kita adalah “malaikat-malaikat dengan satu sayap”. Untuk bisa terbang kita membutuhkan orang lain dan demikian pula sebaliknya. Membuat diri kita menjadi saluran berkat bagi seseorang, senyuman yang tulus dan tepukan dibahu, mungkin bisa menarik seseorang dari tepi jurang, daripada tendangan keras di pantat (maaf).

Sampai kapan pun manusia tidak pernah bisa hidup sendiri, karena sejak awal manusia dikondisikan untuk hidup berkomunikasi. Anda dan saya membutuhkan orang lain, dan orang lain membutuhkan anda.

Bukan hanya untuk menunjukkan kelebihan, namun juga untuk menunjukkan kelemahan anda. Anda memerlukan orang lain untuk membantu mewujudkan mimpi besar yang anda miliki. Orang lain memerlukan anda untuk mengasah sikap dan memperkaya pola pikirnya.

Kalau ini menjadi maksud dari sebuah hubungan, maka hubungan yang terjalin seharusnya memiliki nilai lebih. Ini berarti bukan hanya sekedar Say Hello, namun terciptanya sebuah hubungan yang mampu memberikan pengaruh. Sehingga pada akhirnya perubahan (yang positif tentunya) terjadi pada orang dengan siapa kita menjalin hubungan.

Menjadi Sayap Bagi Orang Lain

Susahkah menjadi sayap bagi orang lain ? Bisakah kita menjadi “alat Bantu” untuk orang-orang disekitar kita ? Yang terpenting adalah, jadikan diri kita sebagai sahabat bagi orang lain terlebih dahulu, maka sahabat akan mudah ditemukan. Sediakanlah telinga yang mau mendengar, dan hati yang mau memahami, serta tangan yang siap menolong, kita pasti akan tercengang melihat akibat yang ditimbulkannya.

Milikilah kasih dan kebaikan hati. Karena hanya inilah bahasa yang dapat didengar oleh orang tuli, dan yang dapat dilihat oleh orang buta. Hanya kasih dan kebaikan hati yang dapat menjembatani setiap perbedaan yang ada. Itu semua berada dalam keputusan yang akan kita buat pada hari ini juga.

Pambudi Nugroho

Melihat Kaca Spion

Refleksi diriMinggu lalu aku menerima email dari salah satu sahabat lamaku yang kini menetap di Surabaya. Email itu berupa puisi yang aku tidak tahu siapa pengarangnya. Entah mengapa pula tiba-tiba sahabatku itu mengirim puisi hanya untukku seorang.

Yang jelas sahabatku itu paham betul, jika aku teramat menyukai puisi, sejak kami masih duduk dibangku sekolah menengah. Sesaat aku membaca sampai berulang-ulang, dan aku mencoba menggumuli sebuah pergumulan hidup yang penuh rutinitas kerja yang membosankan. Bagiku puisi tersebut sederhana, namun cukup menampar batinku untuk bertanya apakah hidupku ini sudah bermakna dan berguna.

Barangkali puisi itu akan pula menjadi lebih bermakna untuk kita bagikan kesetiap orang. puisi itu bersabda demikian :

Sediakan waktu untuk berfikir, itulah sumber kejernihan

Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda

Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna

Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang

Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan

Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia anda sendiri

Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa

Sediakan waktu untuk bersama keluarga, itulah mutiara paling indah

Sediakan waktu pribadi bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.

Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun.

Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya. Tetapi ada juga orang yang “nol besar” alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Waktu terus bergulir , sadar atau tidak, setiap keputusan yang kita buat akan menentukan garis kehidupan yang akan kita jalani.

Keputusan menjadikan kita dapat menikmati kebahagian dan keberhasilan, atau juga penyesalan dan kegagalan. Kualitas hidup, jasmani atau rohani, menjadi sumber daya manusia yang berguna atau tidak, ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat.

Kita memang perlu menatap masa depan, melakukan komitmen apa yang sudah kita putuskan, namun mengoreksi  dan melihat kembali kebelakang apa yang sudah kita lakukan dikehidupan kita, itupun sangatlah arif. Ketika kita masih diberi waktu oleh sang Pencipta.

Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Karena memang waktu tidak akan terulang, sekali berlalu selamanya akan berlalu. Jadi tergolong manakah kita ? Orang arif atau orang bebal ?….

Pambudi Nugroho


Post Navigation