R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Puisi”

Hidup Baru

Seminggu sudah pentas lakon kehidupan ku jalani.
Sebab malam ini, sisa dekor panggung lama tlah berlalu, tak menerima kata lagi.
Tak menerima kita lagi.
Hanya ada sebuah mimbar, sepasang kursi hitam.
lampu-lampu yang ingin menjelaskan.
Esok, ku goreskan tinta pada sebaris bangau.
Yang membubuhkan putihnya pada padi.

Pambudi Nugroho

Dibalik kebisuanmu

Perciklah aku dengan tanda atau kata.

Wahai, kau yang membayang diatas air sungai,

Bayangmu begitu dingin menghantam sisa pohon yang tumbang.

Sesaat pun tiba pohon tak berguna itu meronta letih,

dan membunuhku pelan.

Diujung muara yang tak akan pernah bisa ku temukan.

Pambudi Nugroho – Kemarau di bulan September 2011

Selamat Jalan Dua Sahabat Lama

Adalah teman anda, sahabat kita, dua sahabat yang menjadi legenda, dua titipan Sang Pencipta.

Sahabat kita yang pertama Mbah Surip, diakhir hayat adalah sosok tua yang berhasil menjadi ikon kejujuran bagi masyarakat. Tanpa sadar orang mengelu-elukan dia, bukan karena faktor lagunya semata atau penampilannya yang nyentrik. Masyarakat sebenarnya lebih tertarik pada penampilan mbah surip yang apa adanya. Jujur dan tidak terkesan mengada-ada.

Meski kejujurannya tersebut, mbah Surip terkesan ngomongannya ngelantur dan sulit dipegang. Tetapi orang tidak peduli tentang omongan itu. Ia tidak terjebak pada kemapanan status menjadi selebritis baru, ketika penampilan sederhananya ternyata mampu menghasilkan rupiah. Ia tetap seperti yang dulu, sebagai seniman yang kental dengan kerakyatan.

Lalu sahabat kita yang kedua W.S. Rendra, penyair yang dijuluki “Si Burung Merak” Akibat sakit, Rendra tidak mengikuti prosesi pemakaman sahabatnya, Mbah Surip yang dimakamkan di Bengkel Teater yang dikelolanya, ia langsung menyusul sahabatnya untuk menghadap sang Pencipta.

Pada Tahun 1996, saya merasa beruntung ketika saya mendapatkan kesempatan mengenal langsung mas Willy (Rendra ) pada waktu itu dari Yayasan Komunikasi Masyarakat PGI ( Yakoma ) asuhan Bapak Indra Nababan dan Arthur J Horoni ( Dramawan & mantan Bengkel Muda Surabaya tahun 70-an) mengirim beberapa perwakilan pemuda gereja untuk mempelajari dasar Teater di bengkel Teater Rendra Cipayung Depok.

Saya bertatapan langsung dengan beliau dan mendengarkan pengalaman berharganya, ia bercerita bagaimana caranya merekrut anak asuhannya yang kebanyakan dari komunitas “orang terbuang” atau kaum muda jalanan, untuk dididik dibengkel teaternya dan mampu mandiri menjadi seniman yang berkualitas.

Dalam mengikuti proses latihan di padepokan Rendra, saya mengamati di area tanah padepokan milik Rendra yang luas itu, anak asuhannya tak hanya belajar tentang teateral, tetapi mereka diajarkan berkebun, memelihara ikan, bercocok tanam dan hasilnya itulah yang mereka makan dalam hidup sehari-hari. Penuh dengan kesederhanaan.

Anak asuhan yang kini ditinggal sang Legenda itu, saya selalu menempatkan diri untuk berdiskusi pada saat istirahat latihan. Mereka hidup sebagai seniman yang peka terhadap kerendahan hati dan kesederhanaan. Tidak bermegah diri, dan memang ingin menjalani kehidupan apa adanya.

Itulah mengapa menurut saya, kedua sahabat lama kita itu, begitu dicintai oleh masyarakat luas. Dedikasi mereka tak terjebak pada popularitas, tetapi bagaimana menjadi setia dalam seni dan memberi peran kepada orang lain, agar keberadaannya menjadi keberadaan kita pula, dan dua sahabat itu sudah membuktikannya.

Selamat Jalan dua Sahabat Lama…

Melihat Kaca Spion

Refleksi diriMinggu lalu aku menerima email dari salah satu sahabat lamaku yang kini menetap di Surabaya. Email itu berupa puisi yang aku tidak tahu siapa pengarangnya. Entah mengapa pula tiba-tiba sahabatku itu mengirim puisi hanya untukku seorang.

Yang jelas sahabatku itu paham betul, jika aku teramat menyukai puisi, sejak kami masih duduk dibangku sekolah menengah. Sesaat aku membaca sampai berulang-ulang, dan aku mencoba menggumuli sebuah pergumulan hidup yang penuh rutinitas kerja yang membosankan. Bagiku puisi tersebut sederhana, namun cukup menampar batinku untuk bertanya apakah hidupku ini sudah bermakna dan berguna.

Barangkali puisi itu akan pula menjadi lebih bermakna untuk kita bagikan kesetiap orang. puisi itu bersabda demikian :

Sediakan waktu untuk berfikir, itulah sumber kejernihan

Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda

Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna

Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang

Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan

Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia anda sendiri

Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa

Sediakan waktu untuk bersama keluarga, itulah mutiara paling indah

Sediakan waktu pribadi bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.

Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun.

Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya. Tetapi ada juga orang yang “nol besar” alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Waktu terus bergulir , sadar atau tidak, setiap keputusan yang kita buat akan menentukan garis kehidupan yang akan kita jalani.

Keputusan menjadikan kita dapat menikmati kebahagian dan keberhasilan, atau juga penyesalan dan kegagalan. Kualitas hidup, jasmani atau rohani, menjadi sumber daya manusia yang berguna atau tidak, ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat.

Kita memang perlu menatap masa depan, melakukan komitmen apa yang sudah kita putuskan, namun mengoreksi  dan melihat kembali kebelakang apa yang sudah kita lakukan dikehidupan kita, itupun sangatlah arif. Ketika kita masih diberi waktu oleh sang Pencipta.

Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Karena memang waktu tidak akan terulang, sekali berlalu selamanya akan berlalu. Jadi tergolong manakah kita ? Orang arif atau orang bebal ?….

Pambudi Nugroho


Post Navigation