R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Potensi Diri”

Belajar Dari Krisis Cinta

18072009334Tersebutlah satu kisah kehidupan dua sosok manusia dalam sebuah peristiwa parodi, yang akan menjadi perjumpaan kita pada kesempatan tulisan saya kali ini.

Sebut saja dua manusia itu Pam dan Budi, adalah dua orang petani yang tinggal berdekatan disebuah perkampungan ramai. Walaupun sama-sama petani dan hidup bertetangga, sikap keduanya sangat jauh berbeda. Satu sore, sapi kepunyaan Pam menyenggol pagar kebun Budi, hingga beberapa batang pohon jagung roboh.

Sebenarnya hanya kejadian kecil,dan Pam sudah meminta maaf serta memperbaiki kerusakan itu. Namun, sikap negatif yang dimiliki Budi membuatnya yakin bahwa tetangganya itu sengaja menyuruh sapi-sapinya merusak kebun, karena iri dengan tanamannya yang lebih subur. Baca lebih lanjut…

Iklan

Terima Kasih dan Penghargaan

award2 “Terima kasih Dika”, adalah kata-kata sederhana yang saya sampaikan kepada seorang sobat di dunia maya ini, yang sudah memberikan sebuah penghargaan.  Dan saya berharap Dika yang tak pernah saya kenal itu, pun tetap memiliki impian dan motivasi untuk terus berkarya dan menulis.

Terima kasih, salah satu cara yang paling sederhana tapi efektif dalam menjalin hubungan, adalah melalui pernyataan rasa terima kasih dan penghargaan. Ungkapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tidak dibuat-buat memberikan dampak yang besar bagi orang yang menerimanya. Baca lebih lanjut…

Melihat Kaca Spion

Refleksi diriMinggu lalu aku menerima email dari salah satu sahabat lamaku yang kini menetap di Surabaya. Email itu berupa puisi yang aku tidak tahu siapa pengarangnya. Entah mengapa pula tiba-tiba sahabatku itu mengirim puisi hanya untukku seorang.

Yang jelas sahabatku itu paham betul, jika aku teramat menyukai puisi, sejak kami masih duduk dibangku sekolah menengah. Sesaat aku membaca sampai berulang-ulang, dan aku mencoba menggumuli sebuah pergumulan hidup yang penuh rutinitas kerja yang membosankan. Bagiku puisi tersebut sederhana, namun cukup menampar batinku untuk bertanya apakah hidupku ini sudah bermakna dan berguna.

Barangkali puisi itu akan pula menjadi lebih bermakna untuk kita bagikan kesetiap orang. puisi itu bersabda demikian :

Sediakan waktu untuk berfikir, itulah sumber kejernihan

Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda

Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna

Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang

Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan

Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia anda sendiri

Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa

Sediakan waktu untuk bersama keluarga, itulah mutiara paling indah

Sediakan waktu pribadi bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.

Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun.

Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya. Tetapi ada juga orang yang “nol besar” alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Waktu terus bergulir , sadar atau tidak, setiap keputusan yang kita buat akan menentukan garis kehidupan yang akan kita jalani.

Keputusan menjadikan kita dapat menikmati kebahagian dan keberhasilan, atau juga penyesalan dan kegagalan. Kualitas hidup, jasmani atau rohani, menjadi sumber daya manusia yang berguna atau tidak, ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat.

Kita memang perlu menatap masa depan, melakukan komitmen apa yang sudah kita putuskan, namun mengoreksi  dan melihat kembali kebelakang apa yang sudah kita lakukan dikehidupan kita, itupun sangatlah arif. Ketika kita masih diberi waktu oleh sang Pencipta.

Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Karena memang waktu tidak akan terulang, sekali berlalu selamanya akan berlalu. Jadi tergolong manakah kita ? Orang arif atau orang bebal ?….

Pambudi Nugroho


Berakar bertumbuh dan berbuah

Pohon ManggaDi atas tanah yang baik, sebuah pohon mangga yang rindang, tidak terlalu tinggi pohonnya, namun buahnya begitu lebat. Aku lama memandang pohon mangga itu, dikehidupannya terjadi sebuah proses pertumbuhan yang menarik.

Lama aku menatap pada akar , pada ranting , pada daun , pada buah, aku terhenyak seakan pohon mangga itu berbicara satu sama lain. Seperti sebuah konflik. Maka terjadilah dialog tersebut.

tiba-tiba saja AKAR berkata :

Akar : Teman-teman, Bila akar tidak tertanam dengan baik, maka tanaman akan kekurangan makanan dan air. Jadi tanpa aku, tidak mungkin pohon ini akan hidup. artinya..

Ranting : Tunggu dulu ! Akar. Maksudmu kaulah yang paling berguna diantara kita. Hihihi….Aku Ranting. Aku lah yang mampu menghasilkan buah. Aku yang menopang kalian !.

Buah :  Oke..okelah. Tapi coba kalian pikir. Semua pohon akan diketahui dari buahnya. Misalnya : Buah Mangga..ya pohon mangga. Duren ! berarti Pohon Duren !!…nah, jadi aku si Buah yang paling berjasa. Tanpa aku kalian tak mungkin dikenal hahaha ..kacian deh lu..

Daun :EH..Buah busuk !!. mimpi kau !. lalu bagaimana kamu bisa lahir tanpa aku. Dari mana kau mendapat makanan dan air tanpa melalui aku. Aku Daun, aku menyerap panas matahari agar kau berbuah. Jangan takabur kau !!

Pupuk : aku kasihan dengan kalian semua. Memang kalian bertumbuh. Tinggi besar, tapi tidak pernah berbuah. Ingatkah kau padaku, aku si Pupuk yang membuat engkau semua berhasil.

Tanah : Hahahahahaa…( terbahak-terbahak ) , namaku Tanah. Aku yang paling penting dalam pertumbuhan bibit tanaman. Tanpa aku kalian tak bisa hidup !

Benih : HEI !..Tanah ! hati hati kalo bicara. Aku benih. Tanpa benih apakah gunanya Tanah. Coba kau pikir hei Akar, Daun, Ranting, Buah darimana kamu semua lahir !! Ha ! Apalagi kau Pupuk ! kau Cuma sekantong kotoran kambing saja sudah sombong !

Air kehidupan : Sudah..sudah ..tak ada gunanya bermegah hati

Semua : siapa kau..ya kamu siapa ( mencari-cari suara )

Air kehidupan : Serigala mempunyai liang, Burung mempunyai sarang.Tetapi anak manusia tak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya. Sadarkah kalian, bahwa keberadaan masing-masing bagian didalam tubuhmu, satu sama lain akan membutuhkan. semua sama berharga dan mulia dalam proses pertumbuhan hingga berbuah. jadi mengapa mesti mencari siapa yang terbesar diantara kamu. siapa yang terkuat, paling berperan diantara kamu adalah Dia yang sudah menebar benih ditanah yang baik dan benar.

Ide Cerita : Markus 4 :26:29

Pambudi Nugroho  – Jakarta 26 Juni 2009


Post Navigation