R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Analisis Sosial”

Belajar Dari Krisis Cinta

18072009334Tersebutlah satu kisah kehidupan dua sosok manusia dalam sebuah peristiwa parodi, yang akan menjadi perjumpaan kita pada kesempatan tulisan saya kali ini.

Sebut saja dua manusia itu Pam dan Budi, adalah dua orang petani yang tinggal berdekatan disebuah perkampungan ramai. Walaupun sama-sama petani dan hidup bertetangga, sikap keduanya sangat jauh berbeda. Satu sore, sapi kepunyaan Pam menyenggol pagar kebun Budi, hingga beberapa batang pohon jagung roboh.

Sebenarnya hanya kejadian kecil,dan Pam sudah meminta maaf serta memperbaiki kerusakan itu. Namun, sikap negatif yang dimiliki Budi membuatnya yakin bahwa tetangganya itu sengaja menyuruh sapi-sapinya merusak kebun, karena iri dengan tanamannya yang lebih subur. Baca lebih lanjut…

Iklan

Sulap

“PAKDE,” kata wanita itu setengah menangis, “berilah saya kekayaan.”

Lelaki berjanggut dengan wajah masam seperti tembok tua yang  kehujanan itu terdiam.Matanya setengah terpicing. Adakah ia mendengarkan yang keluar di mulut? Atau menyidik yang bergerak di hati?

Barangkali juga dia hanya berpikir, keras, bagaimana ia bisa dengan sungguh-sungguh  memberi wanita itu apa yang dimintanya: kekayaan. Kata itu, sebuah nama benda abstrak, bukan saja memerlukan penjelasan. Kata itu juga baginya terdengar seperti sebuah wilayah dalam jarak yang tak terduga. Dan ia, yang oleh siapa saja disebut “Pakde”, merasa terlampau tua untuk mencapai sana.

Ia tiba-tiba merasa iba. Wanita itu, yang tampaknya dirundung sengsara, tentu telah sampai pada titik tempat ia terpojok. Ia terpojok oleh keinginan yang tak sampai. Inilah bedanya hidup di dunia dan di surga nanti, kata lelaki tua itu di dalam hati.

Di dunia antara keinginan dan pemenuhan keinginan masih terbentang jarak. Di surga, tiapkali pada kita terbit keinginan, di saat itu juga hasrat itu terlaksana. Akibatnya, jurang antara keinginan dan kepuasan hilang dan kedua-duanya menjadi berhenti sebagai dialektik. Hasrat tak perlu ada. Hasrat tak ada. Dan manusia berbahagia:

Tapi di dunia ini, di hadapannya ini seorang wanita duduk bersimpuh meminta tolong agar ia mendapatkan apa yang seakan-akan menanti seperti bulan perbani itu: kekayaan. Pakde menarik napas dalam-dalam. Dilihatnya wanita ini mengeluarkan  beberapa puluh lembar uang dari dompetnya. Apa yang hendak dilakukannya? Pakde merasa gentar: ia merasa tak layak dan mungkin agak terhina untuk dibayar.

Tapi wanita itu tak bermaksud membayarnya. Ia meletakkan  lembar-lembar uang kertas itu di depan Pakde, seraya berkata, “Pakde, tolonglah. Ini semua uang yang tinggal pada saya. Saya tak tahu bagaimana jumlah ini bisa menjadi banyak berlipat ganda. Bukan saya serakah. Tapi saya yakin akan keajaiban. Saya  yakin akan buah tangan Pakde. Tolonglah, sulaplah uang ini menjadi 10 kali lipat.”

Ya, Allah. Penderitaan batin dan azab badan apa yang menyebabkan putus asa ini, Anakku? Kalimat itu tersusun dengan cepat di hati  Pakde, tapi ia tak sampai mengeluarkannya lewat mulut. Dunia telah terlampau banyak nasihat, terutama bagi mereka yang sedang terpepet. Hidup telah terlalu banyak oleh teguran.Bumi berputar dan bulan perbani terpancang tetap jauh.Wanita ini memerlukan suara yang melipur.

Sesuatu agaknya telah terjadi di antara kita, demikianlah pikir  Pakde, hingga seorang telah tak juga tahu bahwa keajaiban telah  berhenti. Bahwa keajaiban itu akhirnya ternyata hanya diimajinasikan oleh mereka yang kehabisan alternatif, atau hanya monopoli orang yang sangat suci. Atau hanya ada dalam film India di bioskop kelas tiga. Siapa yang berpikir kritis akan tahu itu. Tapi masih adakah gerangan pikiran kritis di saat orang capek berpikir, atau takut, atau malas?

Sesuatu agaknya telah terjadi di antara kita, hingga ada orang seperti wanita ini yang percaya bahwa kekayaan itu sah hanya dengan melalui sulap. Atau semacam sulap: fasilitas yang begitu lekas, yang bisa membuat seorang nol kecil jadi milyarwan dengan cara yang tak usah saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ah, sesuatu telah terjadi pada kita, Anakku, hingga kesabaran dianggap tak perlu, dan jerih payah dianggap kolot.

Pakde pun memandang ke luar jendela dan melihat deretan pohon asam kecik yang tua. Lalu katanya, “Anakku, pernahkah kau baca sebuah iklan sepatu Nike di majalah The Rolling Stones?”

Wanita itu tercengang. Apa gerangan maksud dibalik kata-kata Pakde? Isyarat apa baginya? Setelah sejenak ia bingung, dengan mata yang polos ia menjawab, “Belum pernah, Pakde.” Tapi, seperti layaknya seorang yang menghadap Pakde, ia tak hendak bertanya mengapa ia ditanya demikian.

Dan Pakde juga diam. Ia cuma teringat iklan itu. Di dalamnya ada seorang olahragawan yang letih setelah berlatih (mungkin juga bertanding) habis-habisan. Ia memakai sepatu dan pakaian sport Nike. Dan tulisan itu berbunyi: It’s not something you buy. It’s something you earn.

Pakde pun berpikir, dan wanita itu mencoba menunggu sabdanya. Tapi yang dipikirkan lelaki tua buruk muka itu sebenarnya hanya satu soal sepele: apa sebenarnya padanan kata
to earn dalam bahasa Indonesia. Mungkin kita tak punya kata yang ringkas untuk menunjukkan suatu cara mendapatkan perolehan dari hasil kerja. Barangkali ia salah. Mungkin ingatannya meleset karena tiba-tiba ia menyadari: kita telah terbiasa hidup dengan keajaiban, dengan mukjizat.

“Itulah sebabnya orang-orang pada datang ke hadapanku”, kata Pakde dalam hati, “datang, meminta kekayaan — kata benda  abstrak itu. Ya, Tuhan, bebaskanlah kami dari kemanjaan ini, meskipun tidak hari ini.

Pambudi Nugroho


Sebuah Panggilan

4280_1052350600724_1584563089_30138253_7920679_sLagi-lagi lahirlah sebuah cerita. Yang disampaikan oleh seseorang yang membaca surat.

Ia tinggal di bilangan Depok berbatasan dengan kota Jakarta Timur , dan suatu hari dikoran pagi ia membaca sepucuk surat dari Sangihe Talaud, pada sebuah sudut kolom surat pembaca.

Ia tak mengenal siapa penulis itu, tapi tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang penting. Surat itu berupa setengah keluhan dan setengah pertanyaan kepada redaksi Koran di Jakarta itu. Kalimat terakhirnya ; “apa sebenarnya yang sedang terjadi dinegeri kita ?”.

Rasa-rasanya, nada itu jelas keprihatinan. Ketika politik sudah seperti jenazah dalam laboratorium, dan hanya ditiup untuk sebuah upacara lima tahun sekali. Dan sekali lagi rakyat kita dianggap semacam asrama, atau kantor, tak cukup tersedia infrastruktur kemerdekaan dan kesabaran, yang memberi saluran bagi suara yang  “aneh ” dan pada saat yang sama menghargai proses hukum. Maka, politik pun hanya sebuah keramaian, pidato yang membosankan, yang beruntung masih diselamatkan oleh lagu-lagu merdu.

Ditempat lain, beban rakyat tak kunjung usai. Pasalnya, bangsa kita yang konon ramah ini bukan saja nomor keempat terbesar didunia dalam urusan jumlah penduduk, tetapi jago pula dalam soal utang. Celakanya pejabat tinggi Negara segera menyatakan kalau utang pemerintah yang semakin besar bukan merupakan bencana.

Ironisnya besarnya pembayaran utang tiap tahun hampir sama dengan 3 kali anggaran pendidikan, 11 kali anggaran kesehatan, dan 33 kali dari anggaran perumahan dan fasilitas umum. Maka tak heran, jika rakyat berebut sesak mendatangi tabib kecil ketimbang rumah sakit yang tak beda dengan jasa hotel. Atau bangunan sekolah di pelosok negri yang tak layak lagi digunakan.

Sementara, pesta demokrasi 5 tahunan seperti ajang kekuatan uang agar rakyat tertarik, biaya lah yang seolah-olah menentukan dalam demokrasi. Sehingga tak ada lagi waktu untuk kaderisasi partai yang sesungguhnya, yang mampu melahirkan pemimpin dari kaum muda.

Tetapi, bukan keprihatinan klasik seperti itu yang menyebabkan sipembaca di Didepok itu terkesima. Apa yang ia sadari tiba-tiba, yang selama ini tak pernah ia renungkan betul, adalah kata ” Negeri ” kita diujung itu. Orang tak dikenal di Sangihe Talaud itu yang jelas jauh dari Ibukota RI itu , ternyata masih merasa mempunyai negeri ini !!

Dan di Depok itu, pembaca Koran itu pun tiba-tiba seperti ketularan. Ia merasa ke-Indonesia-an yang tetap sulit dirumuskan itu ternyata bisa dikukuhkan kembali. Negeri ini ternyata masih berarti, bahkan bagi seorang yang begitu jauh nun di Sangihe Taulud. Dan mengapa negeri ini juga tak bisa berarti baginya, di Depok? Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme. Semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil.

Mungkin itulah soalnya; kita tak lagi mendengar perasaan pribadi yang jujur.yang kita dengar adalah pengulangan. Yang kita dengar adalah Klise. Yang kita dengar bukanlah cetusan dari sebuah rasa terharu yang sebenarnya, melainkan sesuatu yang sudah dirumuskan dan diharuskan atau dipetuahkan oleh Bapak produser, pejabat, cukong, kritikus, wartawan, pialang dan sebagainya.

Ketika PKI masih berpengaruh, sama seperti ketika uang sangat dominan, ekspresi bisa diperintah atau bisa dipesan. Ketidakjujuran adalah isyarat ketidakbebasan hati. Kalimat klise adalah topeng bagi mereka yang takut berkepribadian. Dan Topeng selalu berkaitan dengan kepalsuan.

Tapi saya teringat   ” sepasang mata bola”. Saya pernah bertanya kenapa lagu ini tetap menyentuh kita. Seorang teman menjawab; karena lagu itu ditulis tanpa pretensi. Dalam ekspresi yang tanpa pesan dari luar, nyanyian yang mengungkapkan perasaan pribadi bergetar sekuat nyanyian revolusi. Memang, ketika lagu itu diciptakan, orang benar-benar sedang berjuang. Bukannya sedang meyakin-yakinkan diri bahwa ia sedang berjuang.

Barangkali karena tanah air memang bukan sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan. Mungkin karena ia adalah sebuah ide yang tiap kali berseru, keras atau pelan. Suatu potensi yang minta diaktualisasikan, suatu impian yang minta dijelmakan dari waktu ke waktu.

Ketika kita bernyanyi bahwa Indonesia adalah tanah yang ” mulya “  kita bukannya tak sadar bahwa banyak yang tidak mulya disekitar kita. Tapi kita memang tak bisa menerima itu.

Hmm…bersyukurlah…Maka kata si pembaca surat di Depok, tanah air ini belum ramai-ramai ditinggalkan…

Pambudi Nugroho

Masih ada kabar baik

Adalah sebuah bijaksana yang dituturkan oleh seorang Sopir.

Pada suatu malam sopir bis antarkota itu membawa kendaraannya menyeberangi sebuah sungai. Jembatan rusak dan semua kendaraan harus mempergunakan jembatan darurat. Sebenarnya lumrah saja. Tapi beberapa detik dimalam yang hujan dan senyap itu sang sopir ragu, kuatkah jembatan ini ?

Memang aneh. Entah sudah berapa kali ia melewati jembatan darurat sepanjang riwayatnya, tapi baru kali ini ia mendadak ragu. Tapi Cuma beberapa detik. Ia melihat dua lampu dipasang dikedua ujung. Tiga orang diantaranya berlalu hansip dengan mantel murah berdiri ditepi jembatan. Sang sopir segera menginjak kopling dan memindahkan perseneling kegigi satu. Bis mendaki. Dibawah roda jembatan pun bising berkerotak…

20 meter kemudian lampau sudah. Tak ada kecelakaan. Seperti biasa. Dan sopir bis itu kemudian bercerita: Tiap hari disetiap jalan raya saya berjudi dengan nasib. Tapi dijembatan itu saya sadar, apa yang selama ini tak saya sadari akhirnya kita harus percaya ada sejumlah orang yang telah bekerja sebaik-baiknya hingga kita terhindar dari kecelakaan.

Kita masih bisa percaya kepada orang lain bukan ? ia bertanya.

Agaknya memang demikian itulah kebijaksanaan yang ia sisipkan. Ternyata kita masih bisa percaya kepada orang lain. Setidaknya kepada para buruh dijembatan itu, setidaknya kepada para hansip yang tetap berjaga dimalam basah itu.

Meskipun kita tak tahu pasti cukupkah mereka makan sendiri senja tadi. Korupsi dan ketidak-becusan dan kelalaian dan sikap seenaknya memang berkecamuk, tapi kiranya disuatu tempat disuatu bagian, kita masih punya harapan, kita masih bisa tenang dengan sekitar kita.

Maka tadi pagi, sebelum kekamar mandi, kita tidak memutuskan untuk bercerai dengan kenyataan kini. Dunia masih punya kabar baik. Rasa tidak percaya dan rasa kurang berterima kasih kepada orang lain memang kini amat gampang terbit. Hari demi hari, wajah kita memang mudah muram. Tetapi sopir bis malam tadi menghirup kopinya dan berkata: “lihat saya belum mati”.

Pambudi Nugroho

Post Navigation