R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Kumpulan sajak status FB-ku (2)

HAMPA

Ketika aku mencari kesunyian.

Aku merasakan desakan kasih sayang yang aneh,

semacam kelembutan.

Terkuak kenangan.

Seperti dupa yang ditempatkan diatas kayu bakar.

Seperti awan halus yang menyentuh permukaan danau yang tenang.

Seperti jari-jemari musisi yang menyentuh senar-senar gitar.

Dikesunyian itu, hatiku bercakap-cakap dengan suara indah bagai buluh perindu.

Dan segera lenyap, oleh desir angin lalu.

Pambudi Nugroho – 21 Agustus 2011

 

TERSESAT KENANG

Kenang manis itu berlalu beku.

Tinggal sepotong senja berkerudungkan awan.

Meski aku tak pernah meminta, untuk dilahirkan.

Tapi pasti ada cinta yang luruh menyelimutinya.

Ada yang mesti disambut pada setiap kelahiran.

Selalu riang menorehkan cakrawala luas membentang.

Disetiap peluh didahi, dikayuh bidukku.

Ditengah jagad tak bertepi.

Pambudi Nugroho – 20 Agustus 2011

 

22 TAHUN YANG LALU

Aku pernah mengenalnya.

Suatu masa yang terlipat waktu.

Ada cinta yang terpenggal.

Ada cerita yang terputus, entah untuk apa.

Aku tetap merapat dalam sajakku,

berniat melupakan dan kubiarkan mengalir.

Seperti kerbau merindukan kubangan lumpur.

Seperti pula surat cinta yang ditulis,

tapi tak pernah dikirim dan biarlah terkubur.

Mari membisu..

Pambudi Nugroho – 14 Agustus 2011

 

 

DIBALIK DUKA

Ada sebaris kerinduan yang membentang.

Sperti tangis pangeran kesepian!

Menanti harap diujung sunyi.

Hendak merajut temali yang tergerai.

Inikah permainan nasib?

Tercabik-cabik lalu diarak gelombang tanpa daya membelah badai?

Ah..Biarkan saja! serpihan segala duka, kan slalu mengalirkan doa.

PambudI Nugroho – 06 Agustus 2011

 

 

APA KABARMU ?

Hari ini ada haru. Ada sepi!.

Ada haru selembut sayap kupu.

Ada diam, sesunyi bulan redup dipinggir bumi.

Haru karena sahabat hangat memelukku memberi salam: ” Apa kabar mu?”.

Haru dan sepi, adalah bagian dari hidup.

Seperti tangis dan tawa.

Rindu dan damba.

Pambudi Nugroho – 06 Agustus 2011

 

 

KEPERGIAN PAPA MERTUAKU

Anggrek-anggrek suci.

Dan serpihan daun bunga papan masih berserakan ,

disudut teras bersama rintik hujan yang membasahi duka, agar tetap segar.

Tapi baru saja, duka itu menjadi putih.

Aku belajar menyapu duka itu menjadi suka.

Canda riang dan isak bahagia bertebaran didepan mataku.

Aku pun tersenyum dikejauhan.

Tugasku sudah selesai.

Pambudi Nugroho – 10 Juli 2011

 

PAGI

Mentari kita. Mentari cinta.

Setia tak pernah alpa mencumbui bumi.

Setiap pagi, kubuka jendela. Sang embun pagi bergayut ditangkai bunga riang menggoda.

Menetes kedalam dada, menghapus debu kelabu.

Memintal mazmur.

Mentari kita.

Mentari yang melahirkan hari-hari remaja.

Pambudi Nugroho – 2 Juli 2011

 

DIA YANG KEMARIN DAN HARI INI

Hujan berlalu.

Kutelusuri sisa-sisa rintik hujan diujung daun.

Di kedalaman jiwa yang letih aku pernah dan kini tersesat.

Lama aku terjebak dalam pusaran tak bertepi.

Terlalu lama pula aku berdiri di depan pintu-MU.

 ”Masuklah! Pintu tak terkunci! Pintu slalu terbuka! Tak perlu lagi kau ketok”!

Suara anggun itu tak bosan menyiram kakiku,

 yang kering oleh ragu.

Pambudi Nugroho – 28 Juni 2011

 

TERBUANG

Digerbang Tol, wajah kelu menatap langit.

Untuk kesekian kalinya ia bertanya pada angin.

Senyum letihnya mengawali derita.

Guratan wajahnya yang legam, menyusuri lembah dan bukit batuan.

Lalu, ia bertanya lagi pada awan,

pelan ; Dimanakah ujung kaki langit yang tak kenal kasta itu?

Sgala rupa sama.

Sgala rasa sama.

Pambudi Nugroho – 22 Juni 2011

 

REUNI KU REUNIMU

( Proses menyambut acara temu keakraban keluarga alumnus SMP2 2 Cimanggis- angkatan 89 )

Hari ini, dibawah matahari.

Dari satu gang keluar gang.

Dari pintu ke pintu, kukumpulkan wajah – wajah yang hampir kulupa.

Kembali kusatukan dalam baskom tua

Penuh suka tawa kembara.

Hidup menjadi bermakna, karna sebuah persahabatan.

Ia lahir tanpa rekayasa, tanpa ritus tanpa kultus.

Semoga.

Pambudi Nugroho – 18 Juni 2011

 

PARA FASILITATOR

( Panitia Temu Keakraban Keluarga alumnus SMPN 2 cimanggis angkatan ‘ 89)

Terlalu banyak sudah kain-kain robek.

 Setumpuk benang kusut kutemukan di keranjang butut.

Tersingkap dalam gudang kehidupanku, kemarin dan esok.

Tugas ku tetap menjahit.

Penjahit, bukanlah takdirku, ia adalah sebuah panggilan.

Bahwa kita hidup tak bisa sendiri.

Semoga sang Pemberi cinta dan kasih, setia menemaniku.

 ketika aku duduk dikursi kayu,

merenda satu-persatu kain-kain itu.

Pambudi Nugroho – 12 Juni 2011

 

BERPELUH GARAM

Hari ini kau hadiahkan bagiku lembar-lembar pengalaman.

Berujud seuntai kenangan tentang; gelepar daun senja melayang di lantai bumi.

Malam-malam lengang kau jalani dengan nyanyian;

bercanda di kesenyapan, beramahan dengan kesendirian.

Hidup membiak cinta.

Dan malampun patah.

Malampun tak lagi buntu !

Pambudi Nugroho – 4 Juni 2011

 

MENJALA ASA

Bulan emas muda

tergantung dilangit sendu

hanya sejenak lagi

subuh meraih bumi

Ditepi sana ada perapian

ditengah sana ada kehangatan

disekitar ada kehidupan

dibawah langit yang murka

Ketika harapan tiada lagi

ketika upaya tiba diujung perbatasan

ketika itulah mengalun sebuah ucap

penuh wibawa : ” Lemparkan jalamu kesebelah kanan perahu,

maka akan kamu peroleh “

Jalapun sarat

perahu pun padat

dan mereka pun merapat

Yang duduk dekat perapian, membakar ikan jalaan;

sebuah undangan datang menyapa lembut, manis mencinta

” Marilah dan makanlah ! “

Hidup ini tak lagi sepi

Malam ini tak lagi lengang

Pambudi Nugroho – Diakhir mei 2011

 

BULAN MERAH

Bulan berisik

disela gemuruh hati

yang meratap

dan aku masih terpukau

akan dirimu , tentang auramu

yang tak pernah kumengerti

tapi bulan kini memerah

oleh suaraku

yang telah bebas

dan menemukan dirinya

Pambudi Nugroho – Mei 2011

 

DEPAN PANTAI

14 Mei diberanda pantai pelabuhan ratu aku tenang menatapmu.

Jauh melingkar ditiap-tiap sudut pantai,

cahaya lampu semarak memantulkan sinarnya dalam bayang-bayang riak.

Gemuruh ombak berkejaran,

 bersama keringat nelayan tua setia pada pengharapan.

Walau hidupmu seperti menjaring angin.

Pambudi Nugroho – 14 mei 2011

 

PASKAH

Sampai saat yang paling ujungpun,

ketika maut menjemput mati.

Kaulah gunung batu dan mata air.

Kaulah padang rumput dan lahan subur.

Sumber hidup dan spiritual,

untuk tidak menyerah kalah pada benci dan amarah.

Selamat Paskah saudaraku..

Pambudi Nugroho – 22 April 2011

 

TERLENA

Angin masih bertiup.

Membawa setiap kecemasan.

Ada ranting yang luruh,

menerpa wajah-wajah kering dibawahnya.

Hanya gundah yang meraja.

Aku pun masih tersandar ditepi buritan.

Angin datang lebih kencang menegorku.

Kupandangi sandal jepitku, tinggal sebelah!

Pambudi Nugroho – 30 Maret 2011

 

SENJA (I)

Aku beranjak menua.

Satu demi satu kenangan hilang tlah kembali,

menyapaku disudut hati tersembunyi.

Maafkan aku hai kenangan,

aku pernah membuatmu menangis.

Aku pernah membiarkan kau sendirian dalam ratapan.

Terima kasih Kenangan.

Kau ajarkan aku satu hal, tentang kasih yang menjadi jawaban.

Pambudi Nugroho – 22 Februari 2011

 

 

SENJA (II)

Senja yang memerah.

Senja dipematang sawah yang resah.

Senja yang dibisingi gemuruh liuk angin.

Senja yang bijak,

 senja yang meninggalkan kisah usang,

 yang mungkin saja esok tak ada lagi senja.

Pambudi Nugroho – 22 februari 2011

 

MENANTI

Diserambi gubukku,

 kupu-kupu hadir diantara pohon manggaku yang lama enggan berbuah.

Ada disain yang maha dasyat

dibalik warna-warni kupu-kupu ditengah muaknya rutinitas.

Dan konon, keriangan kupu-kupu itu menjadi sinyal akan sebuah kehadiran sahabat lamaku di hari sabtu.

Semoga.

Pambudi Nugroho – 27 Januari 2011

 

NEGERI YANG HILANG

Ditanah yang ramah

Pemilik tanah tak pernah ramah

Padahal setiap pagi ia tersenyum ramah

Lalu, mengapa pula ia selalu mengeluh ditanah yang ramah ?

Oh…ternyata selama ini dirinya tak pernah bercinta dengan si ramah !

Pambudi Nugroho – 21 Januari 2011

 

SORE

Ah..Hangat merasuk kalbu.

Segar menyibak hati.

Saat kau berjalan lepas menyusuri kerongkongan.

Menjanjikan rasa hangat pada tubuh di sore ini.

Lepas penat.

Hilang lelah.

Berganti hari, kau tetaplah wedang jahe.

Pambudi Nugroho – 11 Januari 2011

 

KINI DAN ESOK

Pelita-pelita kecil sudah terpasang.

Perahu-perahu sudah tertambat didermaga.

Burung-burungpun bergegas mencari sarang.

Dikaki sebuah bukit, sekelompok kupu-kupu menari.

 Tarian klasik tentang cinta dan asa.

Mereka menganyam warna-warni.

Ada nanti lincah riang dinanti.

Kitapun punya hari esok,

hari esok yang punya esok!

Pambudi Nugroho – 2 Januari 2011

 

NATAL

Kutengadah keketinggian.

Bintang-bintang berpacaran

menggadai cumbu disayap perenungan malam.

Semuanya berkisah keagungan syahdu malam ini.

Habislah sudah, lenguh gerung jeritan sepi.

Insan-insan tak berkawan, tapi sorga hadir memeluk bumi.

Selamat natal saudaraku..

Pambudi Nugroho – 24 Desember 2011

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: