R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Sebuah Panggilan

4280_1052350600724_1584563089_30138253_7920679_sLagi-lagi lahirlah sebuah cerita. Yang disampaikan oleh seseorang yang membaca surat.

Ia tinggal di bilangan Depok berbatasan dengan kota Jakarta Timur , dan suatu hari dikoran pagi ia membaca sepucuk surat dari Sangihe Talaud, pada sebuah sudut kolom surat pembaca.

Ia tak mengenal siapa penulis itu, tapi tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang penting. Surat itu berupa setengah keluhan dan setengah pertanyaan kepada redaksi Koran di Jakarta itu. Kalimat terakhirnya ; “apa sebenarnya yang sedang terjadi dinegeri kita ?”.

Rasa-rasanya, nada itu jelas keprihatinan. Ketika politik sudah seperti jenazah dalam laboratorium, dan hanya ditiup untuk sebuah upacara lima tahun sekali. Dan sekali lagi rakyat kita dianggap semacam asrama, atau kantor, tak cukup tersedia infrastruktur kemerdekaan dan kesabaran, yang memberi saluran bagi suara yang  “aneh ” dan pada saat yang sama menghargai proses hukum. Maka, politik pun hanya sebuah keramaian, pidato yang membosankan, yang beruntung masih diselamatkan oleh lagu-lagu merdu.

Ditempat lain, beban rakyat tak kunjung usai. Pasalnya, bangsa kita yang konon ramah ini bukan saja nomor keempat terbesar didunia dalam urusan jumlah penduduk, tetapi jago pula dalam soal utang. Celakanya pejabat tinggi Negara segera menyatakan kalau utang pemerintah yang semakin besar bukan merupakan bencana.

Ironisnya besarnya pembayaran utang tiap tahun hampir sama dengan 3 kali anggaran pendidikan, 11 kali anggaran kesehatan, dan 33 kali dari anggaran perumahan dan fasilitas umum. Maka tak heran, jika rakyat berebut sesak mendatangi tabib kecil ketimbang rumah sakit yang tak beda dengan jasa hotel. Atau bangunan sekolah di pelosok negri yang tak layak lagi digunakan.

Sementara, pesta demokrasi 5 tahunan seperti ajang kekuatan uang agar rakyat tertarik, biaya lah yang seolah-olah menentukan dalam demokrasi. Sehingga tak ada lagi waktu untuk kaderisasi partai yang sesungguhnya, yang mampu melahirkan pemimpin dari kaum muda.

Tetapi, bukan keprihatinan klasik seperti itu yang menyebabkan sipembaca di Didepok itu terkesima. Apa yang ia sadari tiba-tiba, yang selama ini tak pernah ia renungkan betul, adalah kata ” Negeri ” kita diujung itu. Orang tak dikenal di Sangihe Talaud itu yang jelas jauh dari Ibukota RI itu , ternyata masih merasa mempunyai negeri ini !!

Dan di Depok itu, pembaca Koran itu pun tiba-tiba seperti ketularan. Ia merasa ke-Indonesia-an yang tetap sulit dirumuskan itu ternyata bisa dikukuhkan kembali. Negeri ini ternyata masih berarti, bahkan bagi seorang yang begitu jauh nun di Sangihe Taulud. Dan mengapa negeri ini juga tak bisa berarti baginya, di Depok? Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme. Semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil.

Mungkin itulah soalnya; kita tak lagi mendengar perasaan pribadi yang jujur.yang kita dengar adalah pengulangan. Yang kita dengar adalah Klise. Yang kita dengar bukanlah cetusan dari sebuah rasa terharu yang sebenarnya, melainkan sesuatu yang sudah dirumuskan dan diharuskan atau dipetuahkan oleh Bapak produser, pejabat, cukong, kritikus, wartawan, pialang dan sebagainya.

Ketika PKI masih berpengaruh, sama seperti ketika uang sangat dominan, ekspresi bisa diperintah atau bisa dipesan. Ketidakjujuran adalah isyarat ketidakbebasan hati. Kalimat klise adalah topeng bagi mereka yang takut berkepribadian. Dan Topeng selalu berkaitan dengan kepalsuan.

Tapi saya teringat   ” sepasang mata bola”. Saya pernah bertanya kenapa lagu ini tetap menyentuh kita. Seorang teman menjawab; karena lagu itu ditulis tanpa pretensi. Dalam ekspresi yang tanpa pesan dari luar, nyanyian yang mengungkapkan perasaan pribadi bergetar sekuat nyanyian revolusi. Memang, ketika lagu itu diciptakan, orang benar-benar sedang berjuang. Bukannya sedang meyakin-yakinkan diri bahwa ia sedang berjuang.

Barangkali karena tanah air memang bukan sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan. Mungkin karena ia adalah sebuah ide yang tiap kali berseru, keras atau pelan. Suatu potensi yang minta diaktualisasikan, suatu impian yang minta dijelmakan dari waktu ke waktu.

Ketika kita bernyanyi bahwa Indonesia adalah tanah yang ” mulya “  kita bukannya tak sadar bahwa banyak yang tidak mulya disekitar kita. Tapi kita memang tak bisa menerima itu.

Hmm…bersyukurlah…Maka kata si pembaca surat di Depok, tanah air ini belum ramai-ramai ditinggalkan…

Pambudi Nugroho

Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “Sebuah Panggilan

  1. Jangan-jangan pemerintah tidak tau apa yang terjadi…hehehe..termasuk jalan rusak macet, rumah jadi tempat jualan, angkot makin banyak, motor mbludak itu dikota dihadapan mereka sendiri. Apalagi di desa, dipulau terpencil, mungkin jauh dari nalar mereka…hehehe..mungkin saja.

  2. Sedih memang mendengar cerita tentang negeri ini…apakah berharap orang-orang politik tak hanya disibukan oleh keinginan pribadi, namun bukalah mata lebar2…begitu banyak rakyat hampir mati kelaparan.
    Lihatlah…anak-anak menangis karena tak bisa makan, tak dapat sekolah, orang tua menjerit tak mampu membayar rumah sakit…
    sedang mereka malah sibuk memperebut kedudukan, berkampaye…menghabiskan dana yang bermilyar-milyar…hanya untuk sebuah kedudukan dan nama.setelah kedudukan didapat, mikir untuk mengembalikan dana itu, lirik sana lirik sini melihat kesempatan.
    celakanya rakyat tambak miskin, tambah nestapa, tambah sengsara….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: