R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Sebuah Keputusan

aku harus pulang Tangan kokoh itu mencengkeram kursi yang didudukinya, seolah mencari kekuatan disana. Wajah yang telah dimakan usia, rambut putih yang menutupi seluruh kepalanya tak kuasa menyembunyikan keterkejutan. Dihadapannya berdiri anak bungsunya, salah satu anak lelaki kebanggaannya yang diharapkan dapat meneruskan usaha keluarga.

Pagi itu sianak bungsu itu, meminta warisan yang menjadi haknya. Serasa dihantam ratusan petir, berharap bahwa itu hanya keputusan yang salah ucap. Tapi ia melihat kesungguhan dimata anaknya. “Bagaimana mungkin, sedangkan kuburan untukku pun belum aku siapkan. Tapi aku bisa apa, anak bungsuku tak bergeming dengan keputusannya”.

Keluar dari rumah megah yang telah membesarkannya, anak bungsu berjalan tanpa menoleh, tak juga sekedar melambai atau mengucap salam perpisahan pada ayahnya yang mematung dipinggir jendela. Keputusan yang menurutnya tepat sudah diambil. Si bungsu membawa semua harta warisannya untuk hidup sesuai dengan keinginannya. Sebutir gula dimanapun tergeletak akan membuat semut berbondong-bondong mendekatinya.

Drama kehidupan kota besar pun dimulai. Sibungsu bukan hanya membawa  gula sebutir, melainkan sekarung besar gula yang pantang dijauhi. Keputusannya untuk hidup berfoya-foya membuatnya menjelma menjadi raja yang disanjung kanan-kiri. Didekati dan dijamah setiap orang.

Kehidupan terus berlanjut. Segala sesuatu ada waktunya, untuk hal apapun dikolong langit ini ada masanya. Harta warisan dibungsu akhirnya ludes tak tersisa. Satu persatu teman pergi meninggalkan. Hanya sekejap sibungsu menjelma menjadi pesakitan yang harus dijauhi. Tanpa harta, apalagi sesuatu yang bisa dipertahankan. Yang bisa dilakukannya hanya menjadi seorang penjaga ternak. Dan itulah yang kini dilakoninya.

Siang itu, usai memberi makan ternak-ternaknya, sibungsu duduk tanpa tenaga. Rasa lapar yang teramat sangat melumpuhkan sisa hidupya. Tangannya terulur mencoba mengambil makanan ternak yang ia yakin bisa memberinya tenaga. Tapi belum sempat menyentuh, satu tendangan dan teriakan maling membuat sibungsu limbung. Ia terkapar dengan bibir menyentuh tanah, sumpah serapah keluar dari mulut majikannya. Haruskah seperti ini ? aku harus pulang…..itu keputusanku….ya aku harus pulang.

Pambudi Nugroho

Iklan

Single Post Navigation

One thought on “Sebuah Keputusan

  1. irahsa on said:

    menarik..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: