R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Sentuhan Tangan Tuhan

biola

Tiba-tiba saja, suara alat pertukangan itu beradu memecah suasana, disuatu masa saat musim penghujan. Seorang ahli pembuat alat musik tengah membuat sebuah biola. Wajahnya diliputi kesungguhan, matanya bergerak mengikuti gerak tangannya, yang memotong dan mengukir sebilah kayu terbaik didepannya.

Laki-laki ini membuat dan membentuk biola dengan seluruh keahliannya. Sentuhan terbaiknya, dengan kesungguhan hati dan cintanya mampu mengubah kayu tak berbentuk menjadi sebuah biola yang mahal, berkelas, indah, dan luar biasa. Gesekan sang pencipta, melalui alunan musik terdengar membuai telinga. Buatan tangan yang tidak setiap tangan bisa menciptakannya.

Biola itu dipajang disatu toko alat musik. Keindahannya memancar menggoda setiap mata yang melihatnya. Tidak semua orang bisa membelinya karena harganya sangat tinggi. Tak lama kemudian, datang seorang ibu membeli biola itu. Ia membawanya pulang dan menghadiahkannya pada sang anak yang baru belajar musik.

Biola yang luar biasa itu kini berada ditangan seorang anak kecil. Tapi, keindahan bunyi apa yang dihasilkan dari seorang anak yang baru belajar menggesek biola, selain suara yang membuat gendang telinga pecah. Biola mahal,tapi tidak berada ditangan yang tepat. Diperlakukan tidak semestinya, akhirnya jatuh dan retak. Merasa tidak ada artinya memberikan biola pada anaknya, sang ibu lalu memasukkan biola itu ketempatnya dan menyimpannya digudang. Untuk beberapa lama biola itu berada disana, dicampur baur dengan barang-barang yang tak berguna.

Untunglah perjalanan alat musik gesek itu tidak berhenti digudang. Suatu hari ia menemukan dirinya berada ditoko barang-barang bekas. Kemudian dibeli seseorang dengan harga bekas.Untuk kedua kalinya biola itu berakhir ditangan dan tempat yang salah. Kali ini, kerusakannya jauh lebih parah. Badannya rusak dan kusam dan dawai-dawainya longgar. Tempatnya hanya satu, kembali kegudang, sesuatu yang tidak pernah diinginkan oleh pembuatnya, biolanya menjadi tak berguna dan sia-sia.

Entah bagaimana, beberapa hari kemudian alat musik ini berada disuatu tempat pelelangan. Tapi sudah tidak ada harganya. Keindahan dan kehalusannya tidak lagi tersisa. Hanya kusam tanpa bunyi, menjadi barang rongsokan tak berharga. Tibalah waktunya untuk biola tersebut dilelang. Ingin rasanya biola bersembunyi ketika tak satupun orang yang mau menawarnya. Jangankan menawar, dipandangpun tidak, bahkan orang-orang menyingkir.

Setelah mengulur waktu yang lama, satu tangan teracung, 10.000 Rupiah !!. Biola menjerit sedih, hanya serendah itukah harga diriku kini ? Biola sangat yakin orang itu menawar bukan karena ingin memiliki tapi lebih karena tidak sabar menunggu barang lain. Sesaat sebelum palu jual beli terketuk, sebuah suara keras menggema diruangan itu, 30.000 Rupiah !!. Seorang lelaki tua berjalan mendekati dan meraih biola itu. Dengan hati-hati dia membersihkan biola itu, seperti tangan seorang ayah dengan lembut dan penuh kasih mengusap wajah anaknya.

Dengan keahliannya, dia merentangkan dan menyetem dawai-dawainya. Lalu, sang ahli mulai memainkannya. Nada-nada indah keluar lewat sentuhan jari jemarinya. Semua orang terbius oleh keindahan suara itu. Tangan yang tepat sudah memegang dan memainkan biola itu. Sampai akhirnya dari seluruh barang-barang yang dilelang hari itu, biola menjadi barang termahal yang laku dijual.

Ketika Tuhan melawat umatNya

Dari refleksi diatas , ternyata segala sesuatu harus kita kembalikan kepada yang lebih berhak atas hidup kita. Saat memperjuangkan perubahan yang kita yakini benar, seringkali terbentur oleh hal-hal diluar dugaan kita. Menghimpit,mencengkeram, memaksa kita untuk berbalik arah pada kehidupan semula.

Ya, kita memerlukan sentuhan tangan Tuhan. Dialah satu-satunya Pribadi yang membersihkan dan mengangkat kita dari gudang yang kotor. Dia yang membuat sayap kita terentang kembali. Dia lah yang sanggup membuat kaki kita kembali kuat untuk melangkah. Kita memerlukan sentuhan-Nya. Ini semua Dia lakukan agar kita mengerti bahwa tujuan-Nya hanyalah ingin membuat orang-orang yang dicintai-Nya menemukan hakikat dari hidup yang sebenarnya.

Pambudi Nugroho

Iklan

Single Post Navigation

8 thoughts on “Sentuhan Tangan Tuhan

  1. KangBoed on said:

    Hmm.. manusia manusia yang sadar akan siapa diri sebenar benarnya diri.. maka dia akan menyerah dan tersungkur.. dalam kediamanNYA.. dan membiarkan TANGAN itu yang bekerja
    Salam Sayang

  2. Benar Kakang,
    Kadangkala ketika kita sudah terlalu ” jauh” melangkah, tanpa disadari kita bertindak melebihi kemampuan sang Ilahi.

    Terima kasih atas waktu lawatannya.
    Salam sayang kembali Kang.

  3. Artikel yang menarik.
    Salam kenal.

  4. pitho on said:

    lumayan mikir

  5. @ Dinda : Salam kenal juga Mbak. Thanks atas lawatan dan apresiasinya.
    Salam sejahtera,

    @Pitho : haha..sorry lo mas, kalo tulisanku bikin mas jadi banyak pikiran. thanks atas waktunya. salam sejahtera,

  6. nimbrung ahh..
    menurut saya inti kehidupan adalah berusaha sebaik2nya dan selebihnya memasrahkan diri atas hasil dari usaha tersebut..
    salam kenal πŸ™‚

  7. renungan yang indah…

    sungguh benar tak semua orang mampu menghargai sebuah karya …atau sebuah karya indah ditangannya…mesti jatuh pada orang yang tepat.

    semua perlu campur tangan Tuhan, mengubah suara-suara sumbang menjadi symphony kehidupan yang merdu dan mengubah harmony kehidupan menjadi lebih indah.

    terimakasih buat renungannya πŸ™‚

    salam persahabatan!

  8. aku datang menyapamu sahabat ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: