R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Koalisi Parpol : Bagaikan Langit & Bumi

Diane Ravitch dalam bukunya : ” What is Democracy and how it should be taught in the schools ” , mengamati bahwa pembangunan koalisi adalah inti dari tindakan demokrasi. Ini mengajar kelompok kepentingan untuk berunding dengan pihak lain , berkompromi dan bekerja didalam sistem konstitusional. Dengan bekerja untuk menciptakan koalisi, kelompok-kelompok yang mempunyai pandangan berbeda belajar cara berdebat secara damai, mengejar cita-cita mereka secara demokratis dan akhirnya hidup dalam suatu dunia yang majemuk.

Diane Ravitch agaknya lebih jauh mencermati bahwa pembangunan koalisi adalah untuk mengatasi perbedaan dan menawarkan kesempatan inovasi , didalam gagasan dan penyelesaiannya. Diujikan terhadap suatu ideologi yang tidak kaku dan direalisasikan dalam kehidupan bernegara.

Di seputar berita kita , koalisi pun menjadi kosakata yang paling ramai saat ini. Setelah pemilu legislatif digelar, bagi partai politik (parpol) tidak ada hari tanpa membicarakan koalisi. Menjelang pilpres, elite-elite politik kini mulai sibuk melakukan berbagai manuver serta penjajakan politik.

Koalisi sepertinya wajib bagi Indonesia yang mengadopsi sistem demokratis pemerintahan presidensial sekaligus multipartai. Berdasarkan konstitusi, pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) harus didukung minimal 25 % dari gabungan suara sah parpol secara nasional atau 20 % jumlah kursi diparlemen.Gambaran menarik seputar penjajakan koalisi misalnya , merapatnya Golkar dengan kubu Mega, sebagai upaya untuk menunjukkan tajinya sebagai partai besar. JK seakan-akan ingin menunjukkan bahwa Golkar belum habis meski perolehan suaranya merosot.

Sementara seteru Blok Mega , yakni Blok SBY sudah berkoalisi dengan partai PKS, PKB dan PAN. Persaingan pengaruh yang terjadi antara dua kubu politik teranyar , blok Mega dan blok SBY, menunjukkan kepada pubik ialah belum munculnya kesepahaman ideologis diantara parpol sebagai prasyarat terbentuknya pembangunan bernama koalisi.

Diberbagai media berita, pertemuan pimpinan parpol hanya menghasilkan butir-butir kesepakatan normatif, tetapi tidak menawarkan visi mau dibawa kemana bangsa ini kedepan. Tidak adanya ” masterplan” kebijakan ekonomi maupun politik serta bagaimana cara mengimplementasikan kedalam proses pembangunan selanjutnya. Seperti yang dicermati oleh Diane Ravitch bahwa koalisi harus mampu melahirkan inovasi dan dapat diimplementasikan kepada rakyatnya.

Pertanyaannya sekarang adalah , dalam usaha penjajakan koalisi politik menjelang pilpres , mampukah memunculkan gagasan-gagasan besar mengenai bangsa ini ? Padahal , pilpres merupakan tonggak utama untuk menentukan siapa pemimpin bangsa ini kedepan. Pemimpin besar yang tak hanya mahir dalam pembangunan ekonomi, tetapi pemimpin yang mencintai akan pengorbanan rakyatnya.

Penderitaan rakyat yang sampai saat ini belum terbayarkan akan KEADILAN. Kita pun tentu ingat beberapa peristiwa pelanggaran HAM ; kerusuhan Mei, kasus pembakaran kota Dili , agresi militer di Aceh, peristiwa tanjung priok dan banyak lagi. Ini menjadi hutang sejarah bagi calon pemimpin yang sekarang pun asyik berkoalisi hanya untuk memenangkan jalan menuju orang nomor satu dinegri ini.

Kelirumologi Pembangunan Koalisi

Meminjam istilah budayawan asal Semarang, Jaya Suprana. Istilah kelirumologi merujuk pada kekeliruan-kekeliruan baik makna kata ataupun fakta sebenarnya dari sebuah kejadian, yang karena sudah terlanjur biasa dipergunakan, diucapkan, didengar dan tidak lagi dirasakan sebagai suatu kekeliruan.

Bagi saya pribadi sebagai rakyat biasa, koalisi pun berlaku kelirumologi. Contohnya , SBY sebagai capres dari partai pemenang pemilu , menjadi sangat menarik bukan lantaran menawarkan program-program kebijakan ekonomi politik yang clear. Partai-partai yang berkoalisi dengan kubu SBY, hanya tertarik pada figurnya sebagai capres yang paling diunggulkan saat ini.

Begitu pula Parpol yang berkoalisi dengan kubu Mega, baru sebatas penggalangan dukungan alias  ” show of force ” didepan SBY. Koalisi dalam kenyataannya seolah-olah seperti ” jegal-menjegal”, untuk menjadi pemenang, ketimbang bersatu dan bekerja sama untuk merumuskan ideologis yang mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik.

Ditempat lain koalisi yang sudah diutarakan diatas , adalah untuk mengatasi perbedaan dan menawarkan kesempatan inovasi , didalam gagasan dan penyelesaiannya. Diujikan terhadap suatu ideologi yang tidak kaku dan direalisasikan dalam kehidupan bernegara. Masing-masing kubu parpol harus menawarkan jawaban atas permasalahan ekonomi , politik , sosial , HAM yang sedang menghadang Indonesia sekaligus menjelaskan kepada publik, akan dibawa kemana bangsa ini.

Bisa jadi, kelirumologi dalam pembangunan koalisi ini, lantaran buruknya kualitas pemilu. Kecaman kinerja KPU yang gagal akibat masalah daftar pemilih tetap (DPT) , ancaman elite parpol untuk memboikot pemilu ataupun penghitungan kursi semakin rumit lantaran banyaknya parpol. Jika memang benar demikian , berarti bangsa ini selalu mundur dalam memberikan pendidikan politik kepada rakyatnya.

Semakin hari , diatas panggung sandiwara politik, wajah rakyat mulai bosan menyaksikan drama monolog yang dimainkan oleh aktor usang yang selalu menghafal dialog pada skenario saja , tetapi tidak memiliki kreatifitas untuk berimprovisasi. Lebih celaka lagi , wajah penonton ( baca : rakyat) tidak ber-ekspresi apa – apa , ketika para aktor itu berlakon lucu dan kocak. Padahal harga tiket masuk pementasan itu lumayan mahal , satu – persatu para penonton itupun mulai beranjak pergi. Entahlah , diskusi apa yang lahir atau kebisuan diantara penonton , ketika meninggalkan kursi panggung tersebut.

Pambudi Nugroho – 26 April 2009

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: