R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Teater : Media Alternatif Khotbah

Di setiap ibadah hari minggu , saya mengikuti ibadah dengan liturgi baku yang terkesan monolog. Tata ibadah ini disusun berdasarkan beberapa tata ibadah gereja yang tergabung dalam persekutuan Gereja – gereja di Indonesia ( PGI ). Tata ibadah ini dibuat untuk membantu jemaat dan pada majelis jemaat untuk memahami secara praktis serta hikmat dalam ibadah – ibadah , sakramen dan pelayanan. Ibadah lebih tersistematis dari “ Votum dan  salam” sampai dengan “ Pengutusan berkat”.

Ditengah liturgi ,  sebelum maupun sesudah kotbah paduan suara / solo / Vocal group misalnya, cukup membuang rasa jenuh jemaat. Pasalnya , seorang Pendeta diatas mimbar lebih banyak membaca konsepnya sendiri. Sehingga mata sang pendeta lebih banyak tertuju kepada “contekan” berupa tulisan yang dipersiapkan sebelum kotbah. Sementara jemaat sendiri asyik menggosok-gosokkan pantatnya ( maaf ) , buat saya itu adalah “tanda” bahwa kotbah pendeta harus segera diakhiri karena membosankan. Celakanya lagi ada jemaat yang tertidur. Entah sihir apa yang dapat menina – bobokan jemaatnya. Padahal gereja pun tak ada AC nya.

Seiring globalisasi yang tak pernah berpuas diri, media televisipun pada hari minggu menyuguhkan siraman rohani. Kotbah karismatik yang lebih bersemangat, yang mampu menyihir kita untuk berdiam dirumah ketimbang datang kegereja. Dan sambil membuka alkitab lewat Hand phone, ditambah kopi susu dan pop corn , lengkap sudah “penjara Iman” orang Kristen masa kini yang mengaku percaya namun tak mengenal saudaranya seiman , tak pernah bertegur sapa dengan tetangganya apalagi dengan saudara kita yang beragama non Kristen.

Teater Kristen

Saya tak ingin lebih jauh membongkar masalah keprihatinan tentang Iman Kristen pada saat ini. Sampai saat ini , bila dibandingkan dengan seni suara atau musik , maka teater digereja masih belum dimengerti akan keberadaannya. Padahal sebagai sarana pelayanan lewat media drama , ia tak kalah efektif bila dibandingkan dengan jenis seni yang lain. Persoalannya , mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja ?

Ketika saya “turun gunung” dari lokakarya teater rakyat di padepokan bengkel teater Rendra di desa cipayung, Depok pada tahun 1995 , yang diadakan oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat  ( Yakoma PGI ). Maka teater kami perkenalkan kepada majelis dan jemaat gereja sebagai media alternatif yang sangat komunikatif ditengah liturgi yang monolog.

Dibawah bendera “ Dapur Teater PRPO” kami mementaskan sebuah pementasan dengan judul “dramatisasi puisi – Nyanyian Pujian Maria” naskah yang saya buat sendiri dengan dekorasi yang sederhana. Didepan level rendah ditutupi oleh kain berwarna merah , dan dibelakang dua kursi yang memanjang diselimuti kain hitam.Pada komposisi background tengah saya sengaja menaruh salib dari kayu yang berdiri miring kekanan. Sebagai symbol bahwa penderitaan kristus tak kunjung usai atas dosa kita.

Ketika pentas teater berlangsung , banyak orang tertawa , terharu dan ada pula yang tersenyum kecut karena menyentil sebuah perilaku. Kritik tajam terhadap kehidupan kristiani dalam sebuah lakon pementasan teater awalnya tak semua majelis dan jemaat menyukai media ini. Barangkali ini menjawab pertanyaan saya mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja ?

Dalam proses perjalanan teater digereja , sebuah pementasan drama tak ubahnya firman Tuhan yang berkotbah seperti pedang yang bermata dua. Ia tidak lagi membuat jemaat tertidur , tetapi berjaga – jaga untuk melakukan refleksi atas segala perbuatan yang kita perbuat dalam kehidupan hari lepas hari , selaku pelajar , karyawan bahkan penganggur. Kekuatan seni teater ini , makin lama makin kental di Jemaat kami.

Disetiap acara Natal , Paskah , Ulang tahun gereja kami hadirkan teater yang terasa lebih kontekstual pada situasi tema yang tengah terjadi. Pada persoalan bangsa sampai persoalan umat kristiani sendiri. Kami beruntung waktu itu , dapur teater kami didampingi oleh seorang dramawan senior tahun 73 an –  Arthur John Horoni. Dan seorang pendeta yang “unik” Pdt. Glorius Bawengan yang piawai dalam memuncakkan khotbah “ending” nya dalam setiap pementasan drama kami.

Teater sebagai alat komunikasi

Pada masa keaktifan saya tahun 1995 sampai tahun 2000 dalam memberikan latihan dasar teater dan penyutradaraan pementasan yang pernah kami pentaskan di Wisma Pelaut , balai rakyat PGRI Depok , Perusahaan besar seperti ICI , Jiwasraya. Selaku pendeta muda , yang mewartakan kabar baik melalui teater tentunya kami menyadari bahwa pesan yang baik tanpa pengkomunikasian yang menarik , maka akan membosankan.

Tuntutan dasar – dasar seni teater , olah vocal , olah tubuh , mencipta komposisi , ekspresi visual , improvisasi sampai pada analisis sosial ke lokasi sekitar untuk pembuatan suatu naskah terus kami gumuli. Dalam seni teater setiap pemain dituntut untuk menjiwai dan memerankan karakter dan laku tokoh – tokohnya dengan baik. Usaha untuk mencapai hal tersebut, biasanya membutuhkan latihan yang serius. Bagi mereka yang baru mengenal latihan dasar teater akan terkesan “ aneh” , “lucu” . Loh.. latihan nya kok seperti “orang gila” , demikian celetuk yang muncul.

Mempelajari seni teater yang terpenting disini , bukan saja keinginan pemain menjadi seorang aktor sinetron besar seperti mas Adi Kurdi misalnya , tetapi melatih pengorganisasian (baca : teater rakyat ). Membentuk sikap kerjasama dan kesetia kawanan dengan melibatkan diri kita dalam seluruh proses kelompok melalui kerja kolektif, interaksi , memberi dan menerima kritik.

Adanya kesempatan untuk menggali talenta dan menunjukkan potensi diri dilingkungan gereja dan masyarakat. Dalam proses latihan itu , latihan dasar dalam bentuk permainan rakyat merupakan pembebasan diri dari sebuah system yang mengukung dan menindas. Saat ini kita akan banyak menjumpai permainan teater rakyat digunakan oleh praktisi SDM dalam perusahaan – perusahaan besar , dalam acara “ outbound” yaitu membentuk “ team building” . Untuk mengobati karyawan nya yang mulai jenuh , suntuk , dan mulai tak bergairah. Ibaratnya men-charge kembali batu baterai.

Kesepakatan dari seorang pemain teater Kristen ( baca : orang – orang berniat terjun dalam pelayanan teater ), ia bukan pihak yang dikuasi lakon, tetapi sebaliknya. Artinya bahwa dalam memerankan apa saja , seorang pemain teater Kristen tidak perlu kuatir, misalnya menjadi jahat karena memerankan Yudas Iskariot. Tapi mungkin saja , menjadi jahat karena masih dikuasai oleh lakon. Berarti disini , perlu kesadaran pribadi.

Bahwa aku memerankan tokoh yang jahat ini , karena aku mendukung suatu pesan yang baik. Yang ingin dibagikan lewat pementasan sebuah drama. Motivasi yang memang harus lahir dan hidup bagi seorang pemain teater Kristen adalah hanya tertuju pada kemulian Tuhan.

Tetapi akan menjadi persoalaan baru , jika teater Kristen sebagai bentuk seni panggung , tak ubahnya pendeta terkenal yang naik mimbar, menjadi larut kedalam penonjolan kesalehan pribadi , lupa untuk siapa ? dan yang paling celaka , timbul krisis kesadaran misi , sampai akhirnya sang “ aku” yang bertahta dan bukan Kristus. Disinilah doa menjadi kekuatan agar pelayanan lewat teater dimurnikan oleh Tuhan.

Pambudi Nugroho – villa pertiwi depok 08 maret 2009


Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “Teater : Media Alternatif Khotbah

  1. I do agree….

    btw…
    bung penulis, tahu lokasi-lokasi dimana orang-orang teater Depok latian ga…
    saya orang depok, tapi belon dapet info ttg ini nih…
    soale kmaren lg mnetap di Bdg 6 tahun,..
    jadi belum update…

    bbrap taun blakangan depok, sempet bikin bebrapa film pendek.. tapi cuma untuk konsumsi komunitas gereja aja…

    thx before… for your info

  2. Salam sejahtera Bung Boma,

    Setahu saya lokasi yang masih aktif untuk teater terbuka di tempatnya mas willy ( Rendra ) di bengkel Teater Rendra desa cipayung – depok. Lokasi tepatnya saya lupa. Nanti saya coba contact kawan – kawan , yang masih aktif latihan teater di depok. Saya kabari melalui email anda.

    Kalau dikomunitas gereja , tentunya latihan teater di gereja masing masing.
    Apalagi menjelang hari raya paskah.

    Terima kasih atas komentar anda bung Boma.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: