R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Iklan Parpol : Sebuah Ideologi Tersembunyi

Sebuah kapal nelayan menabrak ombak dengan layar berlogo burung garuda kuning ; seorang anak membaca buku ditengah ladang lalu menatap langit dengan penuh harap; para pedagang pasar bekerja dengan semangat ; suara pelan wanita lalu meninggi mengatakan “ Gerindra…Gerindra..Gerindra” Diujung iklan, petinggi Gerindra Prabowo Subianto berucap, “Mari bergabung bersama Gerakan Indonesia Raya”. Itulah sebagian iklan politik yang hampir mendominasi iklan dilayar kaca stasiun TV, menjelang Pemilu. Barangkali iklan ini sedikit berbeda menurut saya, dari isu dan pesan positif untuk menggugah nasionalisme publik dengan optimisme kebangkitan Indonesia Raya. Ditengah maraknya iklan politik yang saling menyerang.

partai1

Selain financial, kekuatan narasilah yang turut menentukan daya tarik sebuah iklan. Sebagai penggerak sentimen khalayak, agaknya iklan politik dengan pesan positif rupanya lebih efektif dibandingkan iklan dengan pesan negatif ,seperti yang diutarakan Muhammad Faisal , Pemerhati Psikologi Politik Charta Politika Indonesia.

Perang klaim akan terus mewarnai penayangan iklan – iklan partai politik. Dipentas politik , pengklaiman rupanya tak cukup signifikan untuk mengubah persepsi publik. Seperti narator pada iklan Partai Demokrat yang menyebut Frasa “tiga kali” seolah ingin menegaskan , mana ada Presiden selain SBY yang menurunkan harga BBM hingga tiga kali. Slide berikutnya menunjukan nelayan yang tersenyum lebar. Dilayar tertulis, “melaut tak lagi mahal”. Iklan dilanjutkan dengan sopir angkot yang mengipas – kipaskan uang sehabis mengisi SPBU dengan senyum mengembang pula. Adapula iklan Parpol yang mengklaim sebagai pencipta kedamaian . Bukan hanya diPoso, tapi juga di Ambon, Aceh dan Papua.

Iklan Oposisi

Pada versi lain, partai berlambang pohon beringin itu mengklaim keberhasilan swasembada beras. Dan menjanjikan akan impor beras pada tahun – tahun mendatang. Iklan sentimen pun ditampilkan oleh Partai yang menempatkan diri sebagai Oposisi, PDI Perjuangan misalnya ; mengambil nuansa yang berseberangan. Seolah mewakili situasi berikutnya tak kalah buram. Mulai dari para pencari kerja yang tak juga menemukan lowongan, pengusaha yang membaca lesunya perekonomian, hingga seorang ibu yang kecele karena uangnya tak lagi cukup untuk membeli beras. Ketiganya kompak berseru “tambah susah”.

Tersirat dibenak saya, ketika iklan ini dibuat oleh masing – masing Parpol masih adakah secuil kepekaan terhadap realitas rakyat yang sebenarnya. Konon biaya iklan parpol per bulan memakan anggaran ratusan juta hingga milyaran rupiah. Ditempat lain, rakyat tak mampu berobat ke dokter lantaran  minimnya layanan kesehatan masyarakat, karena rakyat yang kelaparan tentunya akan kekurangan gizi.

Seharusnya dalam masa – masa kampanye, Parpol tidak perlu memakai cara untuk menyihir rakyat dengan narasi palsu. Kejujuran dan kebenaran tampaknya menjadi  harapan rakyat yang tersisa untuk menuju “gemah ripah, loh jinawi” . Mengapa harus menampilkan iklan yang tak sesuai dengan kenyataan, bukankah itu sangat berlebihan. Sebodoh – bodohnya rakyat tentu dapat merasakan sebuah manfaatnya ataupun tidak. Iklan tersebut justru melecehkan akal sehat rakyat ketika kemakmuran tidak pernah berpihak pada kaum papa. Janji – janji yang diumbar elit politik dengan klaim tanpa pembuktian yang nyata akan membuat rakyat semakin tenggelam dalam sebuah ideologi tersembunyi penguasa dalam hal pembodohan dan penindasan rakyat.

Jika semua calon pemimpin kita hanya bisa menawarkan narasi melalui janji yang berlebihan sebaiknya iklan tersebut dihentikan saja. Lebih baik dana iklannya dialokasikan kepada pembangunan gedung sekolah di Indonesia Timur, misalnya. Buat saya lebih sederhana dan konkret. Masa kampanye bukan dengan ucapan “pepesan kosong” tetapi dengan praktek kerja langsung kepada rakyat yang luput dari perhatian pemerintah. Dan biarkanlah rakyat yang dapat menilai serta merasakan bahwa calon pemimpin adalah seperti seorang pelayan, yang siap melayani rakyatnya.

Pambudi Nugroho – Cisaat Sukabumi di awal Maret 2009

Iklan

Single Post Navigation

2 thoughts on “Iklan Parpol : Sebuah Ideologi Tersembunyi

  1. Roy Robo on said:

    Saya Setuju dengan, masalah kampanye hanya pepesan kosong.

  2. Salam sejahtera bung Roy ,
    Terima kasih atas kehadiran dan komentar anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: