R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Indahnya Tradisi Umat

Pukul 8.15 tepat. Pagi itu persis didepan kerumunan karyawan sedang menunggu lift disalah satu gedung kawasan sudirman. Seperti biasanya , kulihat wajah – wajah karyawan – karyawati yang melintas dan berdiri disekelilingiku tampak segar. Aroma parfum berbagai merkpun merebak diantara sejuknya lobby gedung itu. Sambil menunggu Lift yang hanya dua menuju lantai 3 Kuperhatikan wajah – wajah para pekerja itu yang mungkin saja temanku.

“Pagi Bos , Hai Pagi. Pagi – pagi . Selamat Pagi, Halo…Apa Kabar…Selamat ya…udah dipromosikan jadi bos…” .

Ucapan – ucapan salam itu selalu kita dengar dalam kehidupan kita sehari – hari. Ucapan salam sepertinya akan mewakili sebuah percakapan singkat untuk mengkomunikasikan kesadaran kita akan kehadiran atau keberadaan orang lain.

Salampun dapat diekspresikan melalui ucapan dan gerakan.

handshake

Saya teringat hari selasa lalu , ketika saya menghadiri ulang tahun sobatku : Bung Arthur, banyak diantara teman temanku yang mengucapkan selamat disertai dengan bentuk bahasa tubuh : berjabat tangan , bersentuhan pipi ataupun merangkul.

Setiap budaya tentu mempunyai cara yang bersalaman sendiri. Orang Jawa misalnya , tangan dirapatkan dan ujung jarinya saling disentuhkan. Tradisi Jepang saling berhadap –hadapan sambil menunduk. Dalam budaya Maori – selandia baru , agak unik. Ujung hidung saling bersentuhan. Aneka bentuk salam sedemikian rupa itu merupakan tanda sopan santun. Persahabatan, ungkapan rasa hormat , tetapi juga sebagai tanda ungkapan kasih. Adakalanya salam dilakukan dalam rangka perjanjian perdamaian.

Asal – Usul Salam

Berawal dari bahasa Arab, Assalamu alaikum ( as-salāmu `alaykum) merupakan salam dalam Bahasa Arab, dan juga digunakan oleh kultur Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Untuk yang mengucapkan salam, hukumnya adalah Sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya.Salam ini juga digunakan oleh kultur Kristen di Timur Tengah yang mempunyai arti kedamaian dan kesejahteraan”.

Dalam surat Al-Hasyr Ayat 23: As-Salaam ( Maha Sejahtera ) adalah salah satu dari nama – nama agung Allah SWT. Orang Arab biasa menggunakan ungkapan – ungkapan yang lain. Seperti Hayakallah yang artinya ; Semoga Allah Menjagamu tetap hidup. Kemudian umat Islam memperkenalkan ungkapan Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa. Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan bahwa Salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Salam bukan hanya sekedar ungkapan kasih sayang, tetapi memberikan alas an dan logika yang mendalam yakni Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk doa dan pengharapan agar kita selamat dari segala macam bentuk duka cita. Salam mengingatkan kita semua bergantung kepada sang Pencipta. Seperti yang dikisahkan oleh Abdullah bin Amr RA bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amalan terbaik dalam Islam?” Rasulullah SAW menjawab: Berilah makan orang-orang dan tebarkanlah ucapan salam satu sama lain, baik kamu saling mengenal ataupun tidak.” (Sahihain)

Sebuah nyanyian tradisional umat Yahudi pada saat menyambut hari sabat, ungkapan kata – kata sukacita kepada penciptanya pun merujuk pada bait pertamanya dalam bahasa Ibrani : Shalom aleichem malachei ha-shareis malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu, yang berarti : Damai sertamu, ya malaikat yang melayani, para utusan Yang Maha Tinggi, dari Raja di atas Segala Raja, Yang Esa dan Kudus, terpujilah Dia. Datanglah dalam damai, para utusan damai, para utusan Yang Maha Tinggi,

Dalam ajaran Kristiani , ketika Rasul Paulus ,menyurati jemaatnya di Korintus mengatakan : “ Salam kepadamu dari saudara – saudara semuanya. Sampaikanlah salam sayang kepada yang lain dengan cium kudus” ( 1 Kor. 16:20 / 2 Kor.13:12 ). Rasul Paulus mengingatkan umat kristiani akan kedekatan relasi dan kasih. Mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Tradisi Umat Sebagai Pembelajaran

Bercermin dari ketiga tradisi itu, ironis sekali jika kita dalam masyarakat yang majemuk ini tidak membiasakan salam sebagai awal komunikasi dalam konteks relasi persahabatan antar umat. Birokrasi pemerintah , lembaga agama , media massa & elektronik sepatutnya menjadi media public yang mampu memfasilitatorkan tradisi umat yang indah itu kepada elemen masyarakat.

Saya sering memperhatikan disetiap surat kabar , ( surat pembaca ) misalnya , salam diganti dengan kata : Dengan Hormat. Begitu juga dengan koresponden untuk pemerintah, maupun di perusahaan. Buat saya , ungkapan formal ini terasa jauh dari relasi persahabatan. Panggilan kita dalam kehidupan sehari – hari bukanlah membangun tembok , melainkan membangun jembatan. Agar yang semula jauh bisa didekatkan. Persahabatan akan membangun jembatan , sementara permusuhan akan membangun tembok.

Sangat kita sesalkan , jika pemuka agama melarang umatnya untuk memberikan salam ataupu selamat kepada saudaranya yang beragama nasrani. Bagi saya justru tidak belajar sejarah para tradisi yang dicontohkan para nabi. Seperti teladan Rasulullah SAW sendiri berfirman : “ Orang kikir yang sebenar – benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan salam “. ( Al-quran Surat An-nisa ayat 86 ) Keteladanan beliau justru terletak untuk selalu mengedepankan sebuah kerendahan hati. Tebarkanlah salam atau selamat bukan ditujukan kepada umatnya sendiri , melainkan kepada umat yang lain.

Begitupun sebaliknya umat kristiani , tak perlu ragu mengucapkan saudara kita yang merayakan Idul Fitri misalnya. Ungkapan salam atau selamat berarti sudah mendoakan orang lain dalam keadaan damai sejahtera. Itu yang diteladankan oleh Rasul Paulus.

Salaam Shalom

Masih dalam ingatan saya , sebuah media publik yang komunikatif untuk menjadi jembatan komunitas umat beragama yang berbeda. Perlu dicermati menjadi renungan yang berharga bagi para insan diwajah media elektronik kita.

“Dari Bristol, Inggris pemeluk Islam dan Yahudi berbicara bersama. Inilah radio Salaam Shalom ( http://www.salaamshalom.org.uk) .

Menurut Farooq, pengurus asosiasi budaya muslim Bristol sekaligus pendiri Radio tersebut mengatakan hubungan pemeluk agama Islam-Yahudi sering terbelah. Radio itu membuka peluang bagi masyarakat muslim dan Yahudi belajar satu sama lain dan bekerja sama dalam menghadapi persoalaan dan perbedaan diantara mereka.

Kepedulian pemerintah Inggris terutama kementrian dalam negeri yang membiayai radio stasiun itu, perlu kita apresiasi dan dijadikan agenda. Ketika media publik kita masih banyak yang berdiri sendiri –sendiri. Bahkan tak urung menyudutkan agama yang satu dengan yang lainnya sebagai kepentingan politik belaka ataupun golongan.

Ketika kita merasa beragama , berarti agama yang satu dan yang lain harus kita pelajari dan mengerti. Jika kita tidak pernah memiliki kerendahan hati untuk mempelajari agama lain , maka kepicikan dan kesibukan kita pada diri sendiri mengakibatkan ketidak pedulian kita terhadap kehadiran orang lain. Bahwa kita ternyata tidak sendiri. Kita tidak berbeda. Kita sama dalam kerendahan hati untuk menyembah dan berserah diri kepada sang Ilahi .

semut

Tradisi umat yang berbeda namun indah itu, sering kita lupakan. Padahal kita tidak perlu malu untuk belajar dari binatang yang paling kecil dan lemah, yaitu semut. Tak pernah meninggalkan tradisinya sebagai mahluk yang memiliki kerendahan hati untuk mengucapkan salam.

Pambudi Nugroho Malam minggu terang bulan 14 Februari 2009

Iklan

Single Post Navigation

5 thoughts on “Indahnya Tradisi Umat

  1. Mat Koday on said:

    Berat Chonk… gak sanggup gw baca ampe akhir tulisan… Nangis gw sumpeh
    dah… btw.. gw kasih comment perdana nih 🙂

    Lanjut terus dengan tulisan2 berikutnya..

    Salam “MARI MENULIS”

  2. Salam sejahtera Bung Hidayat ,

    Terima kasih atas kehadiran anda di blok yang saya buat di pertengahan januari lalu.

    Semoga Tuhan memberkati Rezeki dan kesehatan anda sekeluarga.

  3. Wendi Bimo on said:

    Beneran berat bos…
    request yang seger-seger n menyenangkan
    biar nga stressss

  4. Bung Wendi ,

    Terima kasih atas kehadiran anda dan masukannya. Sukses selalu Bung.

  5. Yah…SALAM bisa menjadi bahan perenungan indah jika dituangkan dalam tulisan bagi orang yang telah MEMAHAMI akan MAKNA SALAM.

    SALAM tidak hanya sekedar ucapan PASIF, melainkan lebih dari ucapan. Dibutuhkan gerak langkah, aksi, tindakan dan perbuatan dalam wujud karya nyata untuk merealisasikannya. Yakni memberikan KESELAMATAN, BAROKAH dan RAHMAT kepada sapodho-padhane makhluk kanti WELAS-ASIH. Dengan demikian cita-cita untuk menjadikan RAHMAT bagi alam semesta tidak hanya sebuah terminologi PASIF yang KOSONG tanpa MAKNA.

    Saya sependapat dengan postingan Kang mas Pambudi.

    Selamat berkarya Saudaraku

    Salam Sihkatresnan

    =====================================

    Terima kasih atas kebersamaannya kang mas Karyan,
    Salam sejahtera selalu untuk keluarga anda.
    Pambudi Nurgroho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: