R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Sepucuk Surat

Karya : Arthur John Horoni – Bengkel Muda Surabaya 1973

Selamat Malam Surabaya

Tugas kita ialah

memberi muka remaja yang hilang muka

Tugas kita ialah

memberi isi puisi yang hilang isi
memberi warna pada lukisan yang hilang warna
memberi irama pada musik yang hilang irama

memberi arti pada pidato yang hilang arti

memberi getar pada teater yang hilang getar

Tugas kita ialah

memberi jiwa pada hidup yang hilang jiwa

Arthur

( foto : http://www.jagatalit.com )

Sepenggal puisi ini dibuat oleh seorang dramawan berbakat , yang tak setenar macam Rendra , Sitor Situmorang ataupun selebritis   penyair lainnya. Namun bagi kalangan kaum tersisih dan tertindas seperti buruh di Aceh dan Medan , Lelaki kelahiran Sangihe Taulud ini adalah seorang  yang konsisten untuk menyuarakan suara kebenaran. Apalagi kaum muda jalanan di komunitas gereja POUK Depok Timur yang pernah diasuhnya.

Sosok mantan redaktur dibeberapa majalah dan penyiar radio ARH tahun 70an ini, dikenal sebagai kawan , sahabat , moderator yang handal , sekaligus guru besar yang menjadi Inspirasi dan spiritual anak anak muda untuk berproses secara kreatif melalui pelatihan berorganisasi. Dan ketika anak anak muda “turun gunung”, mampu berkompetisi di dunia pekerjaan , hingga sekarang. Ketika akademis tidak menjadi harapan , karena dunia pendidikan cuma ilmu hafalan tanpa bisa menguraikan persoalan.

Aktivis buruh ini tak sekedar memberi isi puisi yang hilang isi , tetapi menjadi pelaku konkrit yang memberi warna dan irama pada kehidupan kaum papa. Ia Tak sekedar berkata – kata dibalik kebesaran puisi itu sendiri, tetapi menjadi bagian ditengah  komunitas, untuk setia menfasilitatorkan antara kepentingan pribadi / golongan menjadi kepentingan bersama , terutama ketika keadilan tak berpihak bagi kaum tertindas.

Buat Penulis sendiri, puisi ini menyadarkan untuk menjadi seorang Penjahit. Ketekunan dan kesabaran untuk “peka” menjahit pakaian yang Robek. Sehingga pakaian itu masih bisa dipakai atau disumbangkan bagi orang lain, ketika ada yang membutuhkan. Artinya, keberpihakan kita atas penderitaan sesama, haruslah menjadi tugas utama kita untuk setia “ Menjahit” kehidupan ini agar terpelihara , Ketika agama berpangku tangan melihat kelaliman.

Sebagai ucapan terima kasih Penulis , menjelang hari kelahirannya 62 tahun yang lalu dan atas kebersamaan beliau didalam organisasi kepemudaan , maka penggalan puisi tersebut menghiasi mukadimah dalam Blog Rawapada ini. Bahwa Penulis pun memiliki tugas yakni , memberi jiwa pada hidup yang hilang jiwa. Agar keberadaan kita di jagat ini lebih berarti dan bermakna.

Shallom bung Arthur ,

Tanggal 10 February  adalah hari istimewa buat kehidupan bung ketika usia senja bukan menjadi halangan menjadi seorang aktivis yang memperjuangkan kaum tertindas. Tulisan ini saya persembahkan untuk ulangtahun bung Arthur sebagai renungan kaum muda dikomunitas INRI & PRPO Pouk Depok II Timur.

Pambudi Nugroho  , Depok akhir Januari 2009

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: