R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Antara Demokrasi dan Demokratis

6

Kata demokrasi akan kembali berkumandang dan menjadi kata kunci menjelang pemilihan presiden ( Pilpres ) 8 Juli mendatang. Sejak berakhirnya pemerintahan orde baru dan dimulainya era reformasi di Indonesia, muncul harapan baru akan hidupnya iklim demokrasi kita. Media cetak dan elektronikpun menyebutnya sebagai “Pesta Demokrasi”.

Kebanyakan orang mungkin sudah terbiasa dengan kata Demokrasi.Tapi demokrasi adalah konsep yang masih disalahpahami dan disalahgunakan manakala Parpol berusaha memperoleh dukungan rakyat dengan menempelkan label demokrasi pada diri mereka sendiri.

Menurut kamus, demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dimana kekuasaan tertinggi berada ditengah rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil – wakil yang mereka pilih dibawah system pemilihab bebas. Presiden AS ke 16 Abaraham Lincoln mengatakan demokrasi adalah suatu pemerintahan “ dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat”.

Demokrasi sesungguhnya adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tetapi juga mencakup seperangkat praktek dan prosedur yang terbentuk melalui sejarah.

Pendeknya demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan. Karna itu, mungkin saja mengenali dasar – dasar pemerintahan konstitusional yang sudah teruji oleh jaman, yakni hak asasi san persamaan didepan hukum yang harus dimiliki setiap masyarakat untuk bias secara pantas disebut Demokratis.

Proses Demokrasi

Bercermin dari proses perjalanan demokrasi di Indonesia , pemerintah atas dan oleh rakyat berarti bahwa suatu masyarakat demokratis sama – sama menerima manfaatnya dan memikul bebannya. Justru terbalik.

Masih banyak rakyat yang harus memikul beban dan tidak menerima manfaat apa – apa. Lihat saja misalnya : penurunan harga BBM dijadikan kepentingan komoditas politik atas keberhasilan pemerintah sekarang. Padahal sekarang harga minyak dunia sudah turun. Bagi kalangan berduit , tentu bermanfaat. Namun bagaimana dengan nasib petani yang kehilangan tanahnya lantaran harga pupuk menjulang tinggi dan langka yang dipermainkan oleh kolusi penguasa dan pejabat.

Siapapun rakyat kita, demokrasi bertumpu pada prinsip bahwa pemerintah ada untuk melayani rakyat ; rakyat ada bukan untuk melayani pemerintah. Jika penumpukan system kekuasaan, legislatif, eksekutif dan kehakiman dalam satu tangan , pantas disebut sebagai Tirani, seperti kata James Madison Presiden Ke 4 Amerika Serikat.

Jika memang rakyat tetap menderita, berarti mereka bebas menyatakan ketidakpuasan mereka dengan cara tidak berpartisipasi alias Golput. Tapi tanpa “ darah hidup” berupa tindakan, demokrasi akan mulai melemah. Karena kebebasan berbicara dan berpendapat adalah darah hidup setia demokrasi. Berdebat dan memberikan suara, berserikat dan memprotes serta beribadah akan menjamin keadilan bagi semua. Konon Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.

Jika pejabat pemerintah tidak pernah belajar dari rakyatnya, yang sudah begitu setia pada negaranya , masih pantaskah kita menyebutnya sebagai “ Pesta Demokrasi” ?

Pambudi Nugroho

INRI Depok

Iklan

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: