R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Hidup Baru

Seminggu sudah pentas lakon kehidupan ku jalani.
Sebab malam ini, sisa dekor panggung lama tlah berlalu, tak menerima kata lagi.
Tak menerima kita lagi.
Hanya ada sebuah mimbar, sepasang kursi hitam.
lampu-lampu yang ingin menjelaskan.
Esok, ku goreskan tinta pada sebaris bangau.
Yang membubuhkan putihnya pada padi.

Pambudi Nugroho

Mundur sejenak

Villa Marisha – Megamendung.

Aku duduk bersila menghadap alam

Enam gelas berisi lilin menerawang wajah

Menerobos alam sadar ku

Dilorong tak ku kenal,

Ku berjalan sendiri ragu menembus cahaya.

Takut ku bukan main !

Saat sapa lembut menyentuh wajahku ; Budi. Suara itu , sepertinya kukenal

Semakin ke berlari semakin kuat kaki ku menancap di bumi. Lumpuh tak berbekas.

Ribuan cahaya menindihku dengan damai,

Mengangkat beban mengucap mazmur , Mampukan aku Tuhan

Pambudi Nugroho – 9-10 Villa Marisha, megamendung – bogor 2011

 

Dibalik kebisuanmu

Perciklah aku dengan tanda atau kata.

Wahai, kau yang membayang diatas air sungai,

Bayangmu begitu dingin menghantam sisa pohon yang tumbang.

Sesaat pun tiba pohon tak berguna itu meronta letih,

dan membunuhku pelan.

Diujung muara yang tak akan pernah bisa ku temukan.

Pambudi Nugroho – Kemarau di bulan September 2011

Nyanyi Bisu Sang Kemarau

Malam larut.

Jangkrik berpantun dengan katak.

Rumput tertindih embun.

Belut merayap ke bibir sawah.

Pinggir kota yang jejal.

Senyap.

(tiba-tiba, bunyi membelah malam tak lagi lengang. Ada nada hangat dibawah bukit hijau) Baca lebih lanjut…

Post Navigation