R A W A P A D A

Saling berbagi dan merawat kehidupan

Archive for the category “Naskah Drama”

Berakar bertumbuh dan berbuah

Pohon ManggaDi atas tanah yang baik, sebuah pohon mangga yang rindang, tidak terlalu tinggi pohonnya, namun buahnya begitu lebat. Aku lama memandang pohon mangga itu, dikehidupannya terjadi sebuah proses pertumbuhan yang menarik.

Lama aku menatap pada akar , pada ranting , pada daun , pada buah, aku terhenyak seakan pohon mangga itu berbicara satu sama lain. Seperti sebuah konflik. Maka terjadilah dialog tersebut.

tiba-tiba saja AKAR berkata :

Akar : Teman-teman, Bila akar tidak tertanam dengan baik, maka tanaman akan kekurangan makanan dan air. Jadi tanpa aku, tidak mungkin pohon ini akan hidup. artinya..

Ranting : Tunggu dulu ! Akar. Maksudmu kaulah yang paling berguna diantara kita. Hihihi….Aku Ranting. Aku lah yang mampu menghasilkan buah. Aku yang menopang kalian !.

Buah :  Oke..okelah. Tapi coba kalian pikir. Semua pohon akan diketahui dari buahnya. Misalnya : Buah Mangga..ya pohon mangga. Duren ! berarti Pohon Duren !!…nah, jadi aku si Buah yang paling berjasa. Tanpa aku kalian tak mungkin dikenal hahaha ..kacian deh lu..

Daun :EH..Buah busuk !!. mimpi kau !. lalu bagaimana kamu bisa lahir tanpa aku. Dari mana kau mendapat makanan dan air tanpa melalui aku. Aku Daun, aku menyerap panas matahari agar kau berbuah. Jangan takabur kau !!

Pupuk : aku kasihan dengan kalian semua. Memang kalian bertumbuh. Tinggi besar, tapi tidak pernah berbuah. Ingatkah kau padaku, aku si Pupuk yang membuat engkau semua berhasil.

Tanah : Hahahahahaa…( terbahak-terbahak ) , namaku Tanah. Aku yang paling penting dalam pertumbuhan bibit tanaman. Tanpa aku kalian tak bisa hidup !

Benih : HEI !..Tanah ! hati hati kalo bicara. Aku benih. Tanpa benih apakah gunanya Tanah. Coba kau pikir hei Akar, Daun, Ranting, Buah darimana kamu semua lahir !! Ha ! Apalagi kau Pupuk ! kau Cuma sekantong kotoran kambing saja sudah sombong !

Air kehidupan : Sudah..sudah ..tak ada gunanya bermegah hati

Semua : siapa kau..ya kamu siapa ( mencari-cari suara )

Air kehidupan : Serigala mempunyai liang, Burung mempunyai sarang.Tetapi anak manusia tak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya. Sadarkah kalian, bahwa keberadaan masing-masing bagian didalam tubuhmu, satu sama lain akan membutuhkan. semua sama berharga dan mulia dalam proses pertumbuhan hingga berbuah. jadi mengapa mesti mencari siapa yang terbesar diantara kamu. siapa yang terkuat, paling berperan diantara kamu adalah Dia yang sudah menebar benih ditanah yang baik dan benar.

Ide Cerita : Markus 4 :26:29

Pambudi Nugroho  – Jakarta 26 Juni 2009


Menulis Sandiwara Penuh

Menulis sandiwara , tentu saja sangatlah berbeda. Ketika sebuah drama pendek bisa memperlakukan persoalan yang rumit sebagai persoalan yang sederhana, langsung dan memuat sejumlah karikatur, sandiwara biasanya melibatkan pertunjukan orang-orang kehidupan nyata yang melakukan hal-hal yang mungkin layak dilakukan oleh penonton dalam situasi yang sama.

Hal yang paling penting untuk dipertimbangkan ketika menulis sandiwara dapat diringkas menjadi satu hal : Plot. Kita mungkin memiliki sebuah kisah fantastik untuk diceritakan yang melibatkan karakter-karakter yang menarik, tetapi apabila penonton tidak dapat mengetahui arah kisah tersebut, maka penonton menjadi bosan dan gelisah dengan mudah.

drama1

Rencanakan plot awal anda dengan permulaan ( bagaimana kita akan diperkenalkan pada karakter-karakter ini ? ), pertengahan ( apa yang terjadi pada karakter-karakter itu guna menimbulkan konflik yang penting dalam sandiwara. Misalnya ; seseorang meninggal, mendapatkan pekerjaan baru atau hamil ). Dan sebuah akhir (bagaimana situasi tersebut mulai diselesaikan ?). Pada tingkat ini, jangan mengkhawatirkan subplot atau karakter tambahan. Jelaskan saja dalam pikiran , kemana ingin mengarahkan kisah tersebut dan simpan kertas tersebut di dekat kita ketika menulis sandiwara.

Dialog yang realistik mungkin penting dalam banyak drama pendek, tetapi adalah vital dalam sandiwara. Anda ingin dunia yang anda ciptakan tidak diisi dengan guntingan-guntingan kardus, tetapi dengan karakter-karakter yang hidup yang memiliki segala macam motivasi, minat, reaksi dan emosi yang berbeda. Berhati-hatilah terhadap cara orang-orang berbicara pada satu sama lain, melihat pada satu sama lain, serta menggunakan bahasa tubuh dan gerak isyarat untuk menyampaikan arti.

Hal yang perlu dimasukkan kedalam naskah anda guna memungkinkan penonton memahami karakter-karakter pemain dengan lebih baik. Lihat rangkaian pembuka yang digunakan dalam sebuah film, kemudian hentikan video tersebut disana. Apa yang dapat dipahami tentang karakter-karakter tersebut dari penghilatan sekilas yang singkat mengenai kehidupan mereka ?

Bahaya terbesar bagi orang- orang kristiani bagi saya adalah , menghadirkan sebuah sandiwara yang segalanya berjalan dengan baik pada penghabisannya. Untuk sebagian orang, kehidupan nyata dan mengembangkan iman dalam konteks segala hal yang diberikan dunia kepada kita merupakan satu hal yang sulit. Bahkan ketika Tuhan tampaknya menjawab doa atau muncul untuk menyembuhkan seseorang, hal ini mungkin menimbulkan serangkaian masalah yang benar-benar baru. Anda mengambil resiko untuk membuat penonton anda merasa bahwa entah bagaimana kepercayaan mereka tidak cukup baik apabila anda menghadirkan sebuah jawaban kristiani yang cocok untuk segala hal. Jadi, biarkanlah beberapa persoalaan tak terselesaikan.

Neil Pugmire seorang dramawan selama 15 tahun untuk kalangan gereja , sekolah dan misi , menulis sebuah naskah yang berjudul Unforgivable Sin. Naskah yang dimainkan oleh Top Cat Theatre Company pada tahun 2001. Sandiwara ini berhubungan dengan dengan masalah apakah harus menerima seorang pelanggar seks yang dihukum kedalam jemaat gereja. Ada beraneka ragam reaksi , dari histeria yang menyakitkan hati sampai kepercayaan bahwa Tuhan dapat menyembuhkan orang tersebut, karena memang mungkin ada situasi yang serupa dalam kehidupan nyata.

Sandiwara tersebut berakhir dengan bersedianya sipelanggar seks untuk berubah dan menerima pengampunan Tuhan atas apa yang telah dia lakukan, tetapi tetap membuka kemungkinan yang nyata bahwa dia dapat melakukan pelanggaran lagi. Apabila sandiwara itu tidak dibuat demikian , ia dapat dengan mudah ditolak sebagai pemeriksaan yang naif dan dangkal akan sesuatu yang sama sekali tidak sederhana dalam kehidupan nyata.

Pambudi Nugroho – 3 mei 2009

Read more…

Teater : Media Alternatif Khotbah

Di setiap ibadah hari minggu , saya mengikuti ibadah dengan liturgi baku yang terkesan monolog. Tata ibadah ini disusun berdasarkan beberapa tata ibadah gereja yang tergabung dalam persekutuan Gereja – gereja di Indonesia ( PGI ). Tata ibadah ini dibuat untuk membantu jemaat dan pada majelis jemaat untuk memahami secara praktis serta hikmat dalam ibadah – ibadah , sakramen dan pelayanan. Ibadah lebih tersistematis dari “ Votum dan  salam” sampai dengan “ Pengutusan berkat”.

Ditengah liturgi ,  sebelum maupun sesudah kotbah paduan suara / solo / Vocal group misalnya, cukup membuang rasa jenuh jemaat. Pasalnya , seorang Pendeta diatas mimbar lebih banyak membaca konsepnya sendiri. Sehingga mata sang pendeta lebih banyak tertuju kepada “contekan” berupa tulisan yang dipersiapkan sebelum kotbah. Sementara jemaat sendiri asyik menggosok-gosokkan pantatnya ( maaf ) , buat saya itu adalah “tanda” bahwa kotbah pendeta harus segera diakhiri karena membosankan. Celakanya lagi ada jemaat yang tertidur. Entah sihir apa yang dapat menina – bobokan jemaatnya. Padahal gereja pun tak ada AC nya.

Seiring globalisasi yang tak pernah berpuas diri, media televisipun pada hari minggu menyuguhkan siraman rohani. Kotbah karismatik yang lebih bersemangat, yang mampu menyihir kita untuk berdiam dirumah ketimbang datang kegereja. Dan sambil membuka alkitab lewat Hand phone, ditambah kopi susu dan pop corn , lengkap sudah “penjara Iman” orang Kristen masa kini yang mengaku percaya namun tak mengenal saudaranya seiman , tak pernah bertegur sapa dengan tetangganya apalagi dengan saudara kita yang beragama non Kristen.

Teater Kristen

Saya tak ingin lebih jauh membongkar masalah keprihatinan tentang Iman Kristen pada saat ini. Sampai saat ini , bila dibandingkan dengan seni suara atau musik , maka teater digereja masih belum dimengerti akan keberadaannya. Padahal sebagai sarana pelayanan lewat media drama , ia tak kalah efektif bila dibandingkan dengan jenis seni yang lain. Persoalannya , mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja ?

Ketika saya “turun gunung” dari lokakarya teater rakyat di padepokan bengkel teater Rendra di desa cipayung, Depok pada tahun 1995 , yang diadakan oleh Yayasan Komunikasi Masyarakat  ( Yakoma PGI ). Maka teater kami perkenalkan kepada majelis dan jemaat gereja sebagai media alternatif yang sangat komunikatif ditengah liturgi yang monolog.

Dibawah bendera “ Dapur Teater PRPO” kami mementaskan sebuah pementasan dengan judul “dramatisasi puisi – Nyanyian Pujian Maria” naskah yang saya buat sendiri dengan dekorasi yang sederhana. Didepan level rendah ditutupi oleh kain berwarna merah , dan dibelakang dua kursi yang memanjang diselimuti kain hitam.Pada komposisi background tengah saya sengaja menaruh salib dari kayu yang berdiri miring kekanan. Sebagai symbol bahwa penderitaan kristus tak kunjung usai atas dosa kita.

Ketika pentas teater berlangsung , banyak orang tertawa , terharu dan ada pula yang tersenyum kecut karena menyentil sebuah perilaku. Kritik tajam terhadap kehidupan kristiani dalam sebuah lakon pementasan teater awalnya tak semua majelis dan jemaat menyukai media ini. Barangkali ini menjawab pertanyaan saya mengapa teater atau seni drama belum diminati di gereja ?

Dalam proses perjalanan teater digereja , sebuah pementasan drama tak ubahnya firman Tuhan yang berkotbah seperti pedang yang bermata dua. Ia tidak lagi membuat jemaat tertidur , tetapi berjaga – jaga untuk melakukan refleksi atas segala perbuatan yang kita perbuat dalam kehidupan hari lepas hari , selaku pelajar , karyawan bahkan penganggur. Kekuatan seni teater ini , makin lama makin kental di Jemaat kami.

Disetiap acara Natal , Paskah , Ulang tahun gereja kami hadirkan teater yang terasa lebih kontekstual pada situasi tema yang tengah terjadi. Pada persoalan bangsa sampai persoalan umat kristiani sendiri. Kami beruntung waktu itu , dapur teater kami didampingi oleh seorang dramawan senior tahun 73 an –  Arthur John Horoni. Dan seorang pendeta yang “unik” Pdt. Glorius Bawengan yang piawai dalam memuncakkan khotbah “ending” nya dalam setiap pementasan drama kami.

Teater sebagai alat komunikasi

Pada masa keaktifan saya tahun 1995 sampai tahun 2000 dalam memberikan latihan dasar teater dan penyutradaraan pementasan yang pernah kami pentaskan di Wisma Pelaut , balai rakyat PGRI Depok , Perusahaan besar seperti ICI , Jiwasraya. Selaku pendeta muda , yang mewartakan kabar baik melalui teater tentunya kami menyadari bahwa pesan yang baik tanpa pengkomunikasian yang menarik , maka akan membosankan.

Tuntutan dasar – dasar seni teater , olah vocal , olah tubuh , mencipta komposisi , ekspresi visual , improvisasi sampai pada analisis sosial ke lokasi sekitar untuk pembuatan suatu naskah terus kami gumuli. Dalam seni teater setiap pemain dituntut untuk menjiwai dan memerankan karakter dan laku tokoh – tokohnya dengan baik. Usaha untuk mencapai hal tersebut, biasanya membutuhkan latihan yang serius. Bagi mereka yang baru mengenal latihan dasar teater akan terkesan “ aneh” , “lucu” . Loh.. latihan nya kok seperti “orang gila” , demikian celetuk yang muncul.

Mempelajari seni teater yang terpenting disini , bukan saja keinginan pemain menjadi seorang aktor sinetron besar seperti mas Adi Kurdi misalnya , tetapi melatih pengorganisasian (baca : teater rakyat ). Membentuk sikap kerjasama dan kesetia kawanan dengan melibatkan diri kita dalam seluruh proses kelompok melalui kerja kolektif, interaksi , memberi dan menerima kritik.

Adanya kesempatan untuk menggali talenta dan menunjukkan potensi diri dilingkungan gereja dan masyarakat. Dalam proses latihan itu , latihan dasar dalam bentuk permainan rakyat merupakan pembebasan diri dari sebuah system yang mengukung dan menindas. Saat ini kita akan banyak menjumpai permainan teater rakyat digunakan oleh praktisi SDM dalam perusahaan – perusahaan besar , dalam acara “ outbound” yaitu membentuk “ team building” . Untuk mengobati karyawan nya yang mulai jenuh , suntuk , dan mulai tak bergairah. Ibaratnya men-charge kembali batu baterai.

Kesepakatan dari seorang pemain teater Kristen ( baca : orang – orang berniat terjun dalam pelayanan teater ), ia bukan pihak yang dikuasi lakon, tetapi sebaliknya. Artinya bahwa dalam memerankan apa saja , seorang pemain teater Kristen tidak perlu kuatir, misalnya menjadi jahat karena memerankan Yudas Iskariot. Tapi mungkin saja , menjadi jahat karena masih dikuasai oleh lakon. Berarti disini , perlu kesadaran pribadi.

Bahwa aku memerankan tokoh yang jahat ini , karena aku mendukung suatu pesan yang baik. Yang ingin dibagikan lewat pementasan sebuah drama. Motivasi yang memang harus lahir dan hidup bagi seorang pemain teater Kristen adalah hanya tertuju pada kemulian Tuhan.

Tetapi akan menjadi persoalaan baru , jika teater Kristen sebagai bentuk seni panggung , tak ubahnya pendeta terkenal yang naik mimbar, menjadi larut kedalam penonjolan kesalehan pribadi , lupa untuk siapa ? dan yang paling celaka , timbul krisis kesadaran misi , sampai akhirnya sang “ aku” yang bertahta dan bukan Kristus. Disinilah doa menjadi kekuatan agar pelayanan lewat teater dimurnikan oleh Tuhan.

Pambudi Nugroho – villa pertiwi depok 08 maret 2009


Dramatisasi Puisi – Nyanyian Pujian Maria

Karya : Pambudi Nugroho – Dapur Teater PRPO 1995

Ide Ceritera dari : Puisi Nyanyian Angsa – WS. Rendra

Ide cerita : Lukas 1 : 46 – 53

Wali negeri : Wali Negeri berkata kepadanya :

“ Sudah berapa lama kamu mengandung “

Padahal, kau belum bersuami.

Aku tak peduli.

Tapi, kau harus disensus !

Bila tidak  ! KAU DIHUKUM MATI.

Maria : ( Jiwaku memuliakan Tuhan

Dan hatiku bergembira,

Karena Allah , Juruselamatku.

Maria – Yusuf namaku.

Anak perawan benar perawan

Dari Nazareth )

Narator I : Difajar angin dingin berhembus

Ayam jantan berkokok.

Matahari masih terlelap di pembaringannya

Maria – Yusuf tinggalkan Nazareth.

Diiringi hiruk pikuk.

Maria-Yusuf tak banyak komentar,

Sebagai warga yang baik.

Sensus harus dihadiri.

Dibetlehem, kota lahir nenek moyang

mereka , Daud.

Mereka tiba didaratan Yizreel yang molek

Daerah ini dikenal sebagai lumbung

Palestina.

Nampak hutan hijau membentang.

Air yang segar, hamparan permadani.

Bunga – bunga liar.

Maria terkenang akan rumahnya.

Narator II : Mil dan Mil merambat.

Hari –hari berlalu

Memasuki wilayah megido

Sebuah kota di Israel.

Melenggang mendaki gunung.

Mereka melewati desa Nain

Dengan iklim yang sejuk.

Dirumah petani gurem

Mereka menginap.

Hari sabat mengintip diujung fajar.

Perjalanan ditiadakan.

Tradisi sabat mesti dipatuhi.

Maria – Yusuf sujud menaikkan mazmur.

Maria : ( Sebab Ia telah memperhatikan

Sesungguhnya, mulai sekarang

Segala keturunan akan menyebut aku

Berbahagia.

Maria- Yusuf namaku

Anak perawan penuh bunga

Dari Nazareth )

Narator I :  Debu –debu melayang tak karuan

Matahari sombong pancarkan sinar

Setengah perjalanan terlewati.

Kota Shomron dan Sebaste

Tembok tembok Israel kuno,

Dengan bangunan bergaya Yunani.

Kota yang kotor

Bagi mereka.

Sepuluh mil sebelah selatan.

Kota Sikhem yang kaya.

Dan padat penduduk yang angkuh.

Yusuf mulai cemas akan keadaan Maria

Yang sedang hamil tua.

Lalu mereka pergi kepada Dokter

kandungan.

Banyak antrian Ibu hamil menunggu.

Persis , orang beli karcis bioskop.

Orang – orang menatap sinis.

Saling berbisik tak bersahabat.

Melirik dari ujung kaki sampai rambut.

Tetapi suster muda yang iba

menariknya.

Ia diberi giliran lebih dulu.

Walapun orang-orang kesal memprotesnya.

Dokter : “ Maria- Yusuf,

Berapa banyak uangmu ??”

Maria : “ Tidak punya “

Narator I : Dokter tersenyum pahit dan menyuruhnya

pergi.

Dengan kaget jururawat menghampiri dokter.

Jururawat :“ Dokter, mengapa tak jadi memeriksa ?

Tanya jururawat merasa Iba.

Dokter :“ Untuk apa ?

Ia tak bias bayar.

Dan lagi sudah jelas obat kita mahal

Yang diimport dari luar negri ?”

Maria : ( Ia memperlihatkan kuasaNya

Dengan perbuatan tangan-NYA dan

menceraiberaikan orang-orang yang

congkak  hatinya.

Maria-Yusuf namaku.

Anak perawan samudra kasih dari

Nazareth )

Narator II : Panas begitu membakar

Matahari tetap dipuncak langit.

Maria-Yusuf berkeliling kota Silo yang baru.

Dengan bangunan-bangunan yang hancur.

Dan mezbah-mezbah yang gugur.

Hati Maria berdebar – debar

Ketika dia teringat sedang mengandung

Juruselamat, Rakyatnya.

Tabut yang hidup.

Tabut perjanjian yang dulu raib dikota ini.

Sekarang ada dalam kandunganNya.

Narator I : Akhirnya merekapun tiba di Bethel

Dikejauhan kira-kira 10 Mil

Kota suci Yerusalem terlihat.

Puncaknya kemilau bermandikan sinar

mentari.

Maria-Yusuf berhenti sejenak

Untuk Berdoa.

Maria : ( Karena yang maha kuasa

Telah melakukan perbuatan besar

kepadaku, dan namaNYA adalah kudus.

Maria-Yusuf namaku.

Anak perawan mawar putih dari Nazareth )

Narator     I : Sejuk angina sore menerpa dedaunan

Pasangan yang kepayahan terus berjalan.

Bagai keledai yang lapar.

Yerusalem penuh sesak serdadu Romawi

Ketika keluar dari Yerusalem,

Hati Maria terperangah melihat jalan-jalan

beraspal.

Toserba mewah.

Tangsi tentara Romawi raksasa.

Dengan nama “ Mark Antony”

Tiba-tiba maria terjatuh kesakitan.

Sambil mengusap-usap perutnya

Yang kian membesar.

Ia memandang Yusuf dan pelan berkata :

Maria : “ Sudah seharian anakku ini belum makan.

Narator II : Yusuf sangat cemas.Ia membopong tubuh

maria.

Melewati tembok-tembok Betlehem.

Peternakan biri-biri yang tersohor.

Persis didepan Gereja, Yusuf menghentikan

langkahnya.

Maria – Yusuf terkesima melihat tempat ibadah ini.

Sangat luas atapnya.

Dan puncaknya diselubungi emas murni.

Diluar, hiasan warna warni tampak cantik.

Lilin-lilin kecil mengelilingi pohon terang.

Bersinar memancar keluar.

Layaknya seperti pesta perayaan tahunan.

Maria bertanya dalam hatinya lalu bergumam :

Maria :  “ Sepertinya aku kenal perayaan ini , …

…..tetapi….

Narator II :  Lalu Maria memperhatikan orang-orang yang

Sedang menikmati makan besar.

Maria terus berfikir. Tetapi air liurnya menetes. Perutnya makin lapar.

Maria-Yusuf menghampiri koster

Dengan stelan jas lengkap berdasi.

Sesaat koster meneliti tubuhnya yang lusuh

Dan berbau, lalu berkata :

Koster : “ Kamu mau apa ??

Pendeta sedang makan bersama para

Undang dan ini bukan jam bicara.

Maria : “ Maaf saya lapar.

Berilah saya sepotong roti.

Koster : “ Baiklah. Kamu boleh tunggu.

Aku Tanya apa pendeta ada waktu.

Narator I : Maria-Yusuf menunggu sambil blingsatan

kepanasan.

Setengah jam baru pendeta datang

kepadanya.

Setelah mengorek sisa makanan dari giginya.

Ia menyalakan cerutu lalu bertanya :

Pendeta : “ Kamu perlu apa ? “

Narator I : Asap cerutu mengepul dari mulutnya.

Jam nya bermerk Rolex.

Maria-Yusuf menjawabnya :

Maria : “ Mau minta makan. “

Pendeta : “ Oh.. Maaf. Makanan dimeja sudah habis.

Dan lagi itu khusus untuk jemaat kami.

Maria : “ Tolonglah , saya sangat lapar.

Pendeta : “ Apa kata jemaat saya nanti.

Pakaian mu yang kumal dan berbau

Mengganggu orang yang sedang berpesta.

Bisa-bisa , mereka muntah karena pakaianmu

Yang lusuh dan bau itu.

Narator II : Maria-Yusuf diam sambil menunduk.

Satu detik tanpa suara.

Lalu pendeta kembali bersuara:

Pendeta : “ Siapakah pemuda ini.

Sambil menunjuk kearah Yusuf

Maria : “ Namanya Yusuf dari Daud. “

Pendeta : “ Apakah dia suamimu ?”

Maria : “ Bukan. Dia Tunangan saya. “

Narator I :  Pendeta krenyutkan alisnya. Mukanya

mengkerut

Pendeta : “ Tunanganmu ??

Lalu bagaimana kau sudah hamil.

Maria :  “ Ini pekerjaan roh kudus.

Narator II : Mendengar ini Pendeta mundur dua tindak.

Sambil tertawa.

Akhirnya agak keder ia kembali bersuara :”

Pendeta : “Belum nikah, Kau sudah hamil ??

Kau berdua pasti berzinah.

Dan terbujuk rayuan IBlis

Maria : “ Tidak. Roh Kudus turun kepadaku.

Pendeta : “ OHH Tuhan “ !

Lihatlah kau pasti berbohong.

Kau melanggar perintah Tuhan !

Kau telah berzinah !!

“ Oh Tuhan..”

Maria : “ Oh.. Tuhan ! Oh Tuhan !!

Bapa. Dengarkan saya.

Saya tak butuh nasehat khotbahmu.

Yang nyata saya kelaparan.

Saya butuh makan.

Bukan Khotbahmu ..!

Narator II : Dan muka Pendeta menjadi merah padam.

Matanya Melotot sambil membentak :

Pendeta : “ BEDEBAH..!

Kamu galak seperti beruang.

Barangkali kami sinting.

Disini tak ada roti untukmu

Kamu mesti pergi , sekarang juga !

Maria : ( Ia melimpahkan segala yang baik

Kepada orang yang lapar dan menyuruh orang

Kaya , pergi dengan tangan hampa.

Maria – Yusuf namaku.

Anak perawan lautan kasih

Dari Nazareth )

Narator  I : Waktu senja telah tiba

Malam.

Bintang.

Cemara.

Lapar.

Lelah.

Perjalanan.

Bagai gurun pasir.

Kota para handai Daud.

Maria- Yusuf menghampiri pemilik motel, ia

berseru :

Maria : “ Adakah tempat menginap bagi kami ? “

Motel : “ Maaf , tempat ini mahal dan semua sudah

dibooking.

Narator  II : Dari satu motel ke motel yang lainnya.

Maria sudah merasa akan melahirkan.

Mereka terus mencari tempat untuk menginap.

Maria : “ Adakah tempat menginap bagi kami ??

Pemilik Rumah : “ Maaf. Rumah kami sangat kecil.

Tak ada kamar yang luang

Narator II : Dengan perasaan kalut dan sedih

Mereka tinggalkan kota itu dan mencari tempat

Disalah satu goa para gembala.

Maria : “ Adakah tempat menginap bagi kami ?

Narator II :  Silahkan masuk, jawab kawanan gembala.

Tempat ini memang tak bagus bagi Maria-

Yusuf , tetapi disana , ada tumpukan jerami.

Dan Palungan.

Dan api yang hangat.

Dan anak Maria , Putra Allah Lahir

Bayi mungil terbungkus kain Lampin

Bintang – bintang gemerlapan.

Sorak-sorai malaikat Sorga

Kidung Pujian para gembala.

Sujud sembah tiga raja dari timur

Dan perjalanan itupun berakhir

…………………

Maria :  ( Ia menurunkan orang – orang yang berkuasa

dari tahtanya, dan meninggikan orang-orang

yang rendah. Maria-Yusuf Namaku.

Anak perawan lahir domba yang manis.

Domba korban segala umat manusia)

Pambudi Nugroho – Dapur Teater PRPO 1995

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.