Kumpulan sajak status FB-ku (3)
KASIH TERNODA
Cinta semula tercurah dalam sabda.
Ketika segala tercipta dalam keramahan kudus begitu khusuk,
sekarang sudah lama terlupa.
Kabur.
Luntur.
Terkubur dalam amarah.
Dalam serakah.
Tersangkut diduri-duri permusuhan.
Yang tersisa hanya tutur.
Penghias bibir yang tak lagi jujur.
Pambudi Nugroho – 6 Desember 2010
WAKTU KAN BERLALU
Antara diri dan waktu.
Selesai kalender bulan demi bulan yang tercabik-cabik.
Esok kumasuki desember.
Tapi bukan berarti permainan selesai.
Dibawah matahari, segalanya bagai terasa segumpal kapas.
Terbang terbawa angin lembut dan juga badai.
Bergegas memburu ujung langit.
Pelan mengelus kenang.
Pada mimpi.
Pada rindu.
Pada harap.
Pada cinta.
Pambudi Nugroho – 30 November 2010
UNTUK SAHABATKU YANG TERBARING
Kusapa kau sore itu dipembaringan lamamu.
Bibir- bibirmu bergerak lirih, menyusun terpatah sekata-kata.
Melepas denyut isak terima kasih, lewat jemari tanganmu.
Cuma itu yang kau mampu, aku tahu!
Hangatnya hati bersahabat, mengubah keluhmu menjadi nyanyian.
Deritamu adalah derita kami ,
karna sahabatmu disini akan berpelukan dalam doa untuk kesembuhanmu.
Pambudi Nugroho – 25 November 2010
DARI RATAPAN MENJADI TARIAN
Dibawah kepak kenang masa lalu
kini dari setiap langkah hidupku,
akan selalu hadir butiran-butiran kecil dan besar
berisi air yang gatal mengusik.
Ada kalanya harus membekas, ada pula lenyap.
Mirip cacar air yang kini hinggap dikulit putriku.
Ia cuma sebentar, segera berlalu.
Dari lemah akan menjadi kekuatan baru.
Dan dari ratapan akan segera menjadi tarian.
Pambudi Nugroho – 20 November 2010
JALAN PERTOBATAN
Sudahlah, jangan kau teruskan ratapanmu itu!
Aku tahu apa yg kau getarkan lewat rintihan airmatamu itu
Memang, banyak pejantan datang dan pergi untuk membeli tubuhmu.
Mengoyak dagingmu,
lalu meninggalkanmu seperti sampah.
Tapi lihatlah, kehadiran-NYA ntuk memberimu pelukan pertobatan.
Seperti pelangi sehabis hujan.
Pambudi Nugroho – 5 November 2010
HARI JADIKU
Malam ini kusantap nasi kuning,
di hari jadiku.
Suap demi sesuap aku teringat derita petani
mungkin tak lagi melihat padinya menguning esok.
Negeri ini tegar berjalan dengan kedua lutut terluka
penuh nanah berwarna kuning pula.
Dibalik bencana selalu hadir kata yang harus kita jawab bersama ;
”Kenapa” dalam warna yang tak selamanya kuning.
Pambudi Nugroho – 27 Oktober 2010
SITUASI INDONESIA
Pagi Indonesia.
Ketika kau mengajak aku memecahkan cermin,
pantulan wajah-wajah putih,
manis,semarak ceria, penuh palsu dan tipu.
Tapi retak kaca membuat wajah menjadi muram penuh luka tersayat,
tampak pada cermin pecah.
Lalu katamu: “inilah wajah-wajah yang sebenarnya.
Bayang-bayang terpatah.
Pambudi Nugroho – 9 Oktober 2010
USIAKU KINI
Detik kembali membuka sayap.
Anggun mengepak-epak.
Membawa tiupan angin deras seolah bercerita tentang kefanaan.
Tentang mentari yang setia memberi kehidupan.
Tentang embun dicumbu fajar.
Akupun mulai menghitung, dalam gaung tahun bergema tahun.
Kalender bulan ini akan habis dan kurobek.
Dalam pengharapan, aku bisa berucap: “usiaku tiga tujuh!”
Semoga.
Pambudi Nugroho – 28 September 2010
DIPERBATASAN USIA
Menyimak ingatan hari-hari berlalu.
Senja terasa panjang membujur.
Angin dingin melintas, lalu menegur ; Berapa umurmu? Aku pun tafakur !
Musim yang selalu berganti tak pernah menjadi tua.
Resah haru berbunga suka,
Ikut tertatih latah menyapa ; Cukup tafakur!
Basuh dirimu dalam lumpur !
Pambudi Nugroho – 26 September 2010
SEMBILU CINTA
Sobatku,
Dibibir sungai kecil yang berkilap-kilap disore tadi.
Aku lihat dua kekasih yang berdiri kaku dan saling mengucapkan ; selamat berpisah.
Keduanya menatap seraya merangkul jiwa dan memberi kecupan harapan.
Tetesan kepedihan air mata itu, jatuh di kelopak bunga yang sedang kuncup.
Mungkin, ketika bulan purnama dimalam ini
mereka jatuh kesepian dikamarnya.
Seperti burung terluka yang ditembak pemburu.
Pambudi Nugroho – 18 September 2010
JANGAN SALAHKAN CINTA
Ketika cinta hadir,
aku ingin kau mencintaiku seperti sang penyair mencintai pikiran-pikirannya yang pedih.
Dan ketika cinta itu pergi dengan perih,
aku ingin kau mengingatku seperti seorang pengelana
mengingat danau tenang yang memantulkan bayangan dirinya ketika ia meminum airnya.
Pambudi Nugroho – 17 September 2010
TAKBIRAN DI SUDUT JEMBATAN
Malam ini bukan untuk tidur.
Biarpun perut kenyang ketupat dan opor ayam.
Dilorong gelap dingin beku, diatas tumpukan sampah,
Kau mulai bangun kemah dari sobekan plastik.
Koran bekas , terpal butut.
Keseharian mu yang lapar, adalah nestapa tak kunjung surut.
Tapi Kehadiranmu membiak cinta dalam lipatan jejari doa, untuk berbagi.
Pambudi Nugroho – 10 september 2010
MALAM KEMERDEKAAN
Pukul 12.32.
Aku coba tersenyum,
seraya menatap hangat bendera merah putih usang warisan Bapakku.
Malam ini ia diam, seperti enggan berkibar.
Mungkin tak ada angin.
Mungkin juga ia pegal, seharian diterpa angin, panas dan hujan.
Atau jangan-jangan ia tak mampu lagi berkibar.
Lalu, dengan tatapan sayu seolah-olah ia ingin berkata sesuatu kepadaku.
Tapi, entah apa….Rasa kantukku pun tiba.
Pambudi Nugroho – 17 Agustus 2010
4 JAM DI IBUKOTA
Dirusuk kota yang pengap, persis dibawah jembatan.
Kau membuka malam.
Diterpa dingin, angin & debu.
Atas tikar sobek butut, kau tempuh hidup, larut.
Dalam nestapa tak kunjung surut.
Masih pekakah hati kami yang beku ini, menerima hembusan lembut kehidupanmu.
Malam ini kau akan bernyanyi lagi, meraih subuh.
Merebut esok yang punya asa.
Pambudi Nugroho – 15 Agustus 2010
SAMBUTLAH RAMADHAN
Waktupun berbisik; hari berlalu, pekan segera menghilang
Dan bulanpun usai tertawa.
Adalah saat indah, ketika hati menjenguk nurani.
Ada masa lalu berserakan.
Jejak langkah dipersimpangan jalan yg harus ditinggalkan.
Malam ini kita membaca apa yang ada disudut hati untuk esok menyemai kasih,
selembut sayap kupu-kupu.
Diatas bumi, diatas sesama.
Selamat menunaikan ibadah puasa saudaraku..
Pambudi Nugroho – 10 Agustus 2010
RINDU PULANG
Hendak kemanakah perahu ini berlayar,
jika ombak begitu kencang.
Disudut manakah aku hendak berlindung,
jika perahu ini tak lagi bertepi.
Ketika senja menyambut nanti, kutak berharap gelombang datang.
Aku cuma ingin kembali, pada tepi buritan.
Pambudi Nugroho – 31 Juli 2010
DERITA MU DERITA TUHAN
Kemiskinan yang mengekang.
Keadilan tak pernah berpihak.
Membuatmu lebih suka menarik kutang, membuka paha, kutahu itu bukan dirimu.
Mengadulah pada langit.
Pada Bumi.
Dilorong gang remang tempatmu dibesarkan, kibarkanlah bendera setengah tiang.
Kembalilah saudariku.
Pengampunan tlah terbuka, karna Tuhan hadir melawat umatNYa.
Pambudi Nugroho – 24 Juli 2010
YANG MAHA AGUNG
Katakan padaku, hai rembulan !
mana yang harus aku lakukan lebih dulu?
Menjaring angin atau menjemur asa atau ?
menjilati embun malam
Ah.., aku tahu! aku tahu! kau pasti diam,
bukan karna Silent is gold.
Tapi karna kamu adalah cahaya dikeheningan.
Pambudi Nugroho – 10 juni 2010
ADALAH SAUDARAMU
Setiap detik rindu itu selalu membesukku,
Setiap waktu aku teramat letih karna harus pergi kekawah gunung salak untuk menyimpannya.
Pada akhirnya kau akan sadari, berapa besarnya rinduku yang tlah aku tabung disitu,
ketika gunung itu memuntahkan laharnya.
Dalam keheningan yang sama,
aku pandangi pohon jambu kelutuk yang sedang belajar berbuah.
Tiba-tiba, angin malam menepok wajahku dengan lembut seraya bertanya; “Hai Pam,
tahukah kamu bagaimana “malam” telah berganti “fajar”?
Aku jawab:” Saat kita bisa membedakan anjing & domba dikejauhan”!
Sang malam tersenyum dan berkata:” Bukan! adalah ketika kamu melihat semua orang,
entah laki-laki atau perempuan
adalah saudaramu”!
Pambudi Nugroho – 28 mei 2010
BEGADANG
Disubuh buta menanti sang fajar.
Persis dikolong langit depan teras rumahku,
aku menatap langit ingin
Dan kepingin bertanya pada Pemilik jagat ini ; ” Apakah Engkau pernah tertawa Tuhan “?
Pambudi Nugroho – 24 Juli 2010
KITA DAN LAZARUS
Terima kasih Tuhan, ketika kami bersantap siang,
aku melihat bayang sosok Lazarus,
pengemis tubuhnya sarat dengan borok persis dipermukaan kuah sop hangatku.
Air liurnya menetes.
Anjing menjilati boroknya.
Mampukan kami pada sebuah aksi,
saat kami sudah berbangga soal iman.
Pambudi Nugroho – 18 April 2010





