Nyanyi Bisu Sang Kemarau
Malam larut.
Jangkrik berpantun dengan katak.
Rumput tertindih embun.
Belut merayap ke bibir sawah.
Pinggir kota yang jejal.
Senyap.
(tiba-tiba, bunyi membelah malam tak lagi lengang. Ada nada hangat dibawah bukit hijau)
“Mau kemana Pak?
malam-malam begini keluar bawa parang?” tanya Ibu keheranan.
“Mau ronda. Bapak mau tidur dilumbung padi Bu, takut kalo “tikus-tikus” itu datang mencuri padi milik kita.
“loh, apa tak lebih baik pasang perangkap saja ; tanya ibu lagi.
” Ah..percuma! lebih baik aku potong saja leher “tikus” busuk itu. Biar tuntas Bu!
( hari kedua )
Malam lebih larut, seperti kemarin.
Kali ini, burung hantu mendengkur keras.
Ular tersedak menelan landak.
Digelap gulita, para tikus mencari agenda. Esok, kita makan siapa ?
Tak terjawab, sebuah sapa lembut dari kaum papa;
“Loh, malam ini mau jaga lumbung padi lagi toh Pak?
Lah, kemaren bawa parang kok sekarang bawa laptop? Piye toh?” tanya istrinya.
“Tikus-tikus” yang ada dilumbung padi kita itu ndak bisa dibunuh pake parang bu..
Terlalu cerdik ”.
makanya aku bawa laptop.
Sambil jaga, mau search ke google, siapa tahu nemu ide!”
Pambudi Nugroho – 20 April 2011





![Desire.. [Explored] 22.2.12 Desire.. [Explored] 22.2.12](http://static.flickr.com/7194/6921502699_4cb090c84f_t.jpg)
Kalau sudah dirundung kemarau, maka pertahanan apapun harus dilakukan.
nanya mbah google pastinya