Melihat Kaca Spion
Minggu lalu aku menerima email dari salah satu sahabat lamaku yang kini menetap di Surabaya. Email itu berupa puisi yang aku tidak tahu siapa pengarangnya. Entah mengapa pula tiba-tiba sahabatku itu mengirim puisi hanya untukku seorang.
Yang jelas sahabatku itu paham betul, jika aku teramat menyukai puisi, sejak kami masih duduk dibangku sekolah menengah. Sesaat aku membaca sampai berulang-ulang, dan aku mencoba menggumuli sebuah pergumulan hidup yang penuh rutinitas kerja yang membosankan. Bagiku puisi tersebut sederhana, namun cukup menampar batinku untuk bertanya apakah hidupku ini sudah bermakna dan berguna.
Barangkali puisi itu akan pula menjadi lebih bermakna untuk kita bagikan kesetiap orang. puisi itu bersabda demikian :
Sediakan waktu untuk berfikir, itulah sumber kejernihan
Sediakan waktu untuk bermain dan bersantai, itulah rahasia awet muda
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju hidup bermakna
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa dari Tuhan
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling, waktu anda terlalu singkat untuk hidup dalam dunia anda sendiri
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa
Sediakan waktu untuk bersama keluarga, itulah mutiara paling indah
Sediakan waktu pribadi bersama Tuhan, itulah sumber kekuatan.
Ya, bagaimana hidup kita; apakah akan bermakna dan berguna, ataukah akan berlalu dengan sia-sia tanpa arti, tergantung pada bagaimana kita mempergunakan waktu. Semua orang dikaruniai jumlah waktu yang sama; 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 52 minggu setahun.
Tidak kurang, tidak lebih. Dengan waktu yang sama itu, ada orang yang bisa berkarya besar bagi Tuhan dan sesamanya. Tetapi ada juga orang yang “nol besar” alias tidak berkarya apa-apa selama hidupnya. Pangkalnya terletak pada pengelolaan waktu.
Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita berani mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Waktu terus bergulir , sadar atau tidak, setiap keputusan yang kita buat akan menentukan garis kehidupan yang akan kita jalani.
Keputusan menjadikan kita dapat menikmati kebahagian dan keberhasilan, atau juga penyesalan dan kegagalan. Kualitas hidup, jasmani atau rohani, menjadi sumber daya manusia yang berguna atau tidak, ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat.
Kita memang perlu menatap masa depan, melakukan komitmen apa yang sudah kita putuskan, namun mengoreksi dan melihat kembali kebelakang apa yang sudah kita lakukan dikehidupan kita, itupun sangatlah arif. Ketika kita masih diberi waktu oleh sang Pencipta.
Cara hidup seseorang selalu berkenaan dengan cara ia menggunakan waktunya. Karena memang waktu tidak akan terulang, sekali berlalu selamanya akan berlalu. Jadi tergolong manakah kita ? Orang arif atau orang bebal ?….
Pambudi Nugroho






bagus sekali puisinya….salam kenal…
Salam kenal kembali Mas Tono,
Saya sudah mengunjungi blog anda
Salam Sejatera,
Puisi yang sangat menyentuh jiwa dari hiruk pikuknya kehidupan untuk berbuat yang terbaik bagi kedamaian sesama.
salam jumpa dan kenal untuk keluarga dan sahabat.GBU
Selamat sore Pambudi, senang bisa bolak-balik di blognya lagi, Wah… tulisannya sungguh menyadarkan saya, banyak waktu yang terbuang karena semua yang tertulis dalam puisi diatas belum mewakili kegiatan saya. Hampir separuh hari setiap harinya waktu saya digunakan untuk kegiatan kantor, bahkan terkadang waktu senam bisa terambil oleh kegitan kantor, sungguh bahagia bila dapat menjadi manusia yang bermakna seperti tulisan diatas. Dan saya akan mencoba dalam hidup saya yang tersisa ini untuk menjadi manusia yang bermakna bagi Tuhan dan sesama. Terima kasih postingan yang bagus, Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
Tanks atas kunjungan dan komennya, Mas!
Mari kita terus mencari segala sarana menuju Dia.
Aku baru nulis cermin kemaluan di sini spion waktu.
Semoga ada guna!
-
Salam Damai!
Hi hi hi, SALAM Kenal Yah. SIP Markusip.
Sediakan Waktu untuk ngeblog juga. He he he.
SALAM. SALAM
GBU
@Maren : Astaga kau seperti buntutku atau aku yang seperti buntutmu ??? Kujumpai kau dimana saja. Astaga Naga.
@love
Astaga?
Alhamdulilah maksudmu?
kunjungan balik dari pemuda . hihihihi
saya seneng yang ini
“Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang”
Inti dari puisi yang dikirim teman mas Budi sungguh bermakna. Apabila kita memanfaatkan setiap detik, menit dan jam setiap harinya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat, adalah sama halnya kita menanam kebaikan, dan pada suatu saat kita akan menunai kebaikan pula.
Makasih commentnya yang sangat berbobot di blog saya.
Salam persahabatan.
Sediakan waktu untuk merenung….
Salam………
Wow…aku juga suka dengan puisi ini
Btw…klu waktunya habis ‘tuk ngeblog gimana Mas
@ Lovepassword : anda berdua dengan Maren Kitatau kan sudah seperti saudara kembar ! so Kamu hadir pasti si Maren hadir lah..hahaha
@ Bu Agnes :Thanks atas apresiasinya.
@ Rivanlee : yang penting ketika bermimpi harus cepat2 bangun ya..thanks ya
@ Pak Endang : Thanks atas komentar Bapak yang mencerahkan dan kritis.
@ Indra 1082 : Thanks atas tulisannya ” kacang lupa sama kulitnya” ..menyejukkan !
@ Yep : ” Btw…klu waktunya habis ‘tuk ngeblog gimana Mas” ?
Hmm…ya sama dengan tak punya waktu untuk berbuat kebajikan kepada sesama. kerjanya cuma memposting yang bagus2 tapi tidak ada aksi. Thanks ya atas masukannya.
Salam Sejahtera Yep
HHmm…puisinya benar2 bermakna Mas….
Merefleksikan diri kita ke cermin tetangga…hohohohoho….
Salam semangat selalu
@ Bocah Bancar : Thank Mas. Jadi tepatnya tanggal berapa mas ? aku di undang ndak ? hohohohoho
Salam ya buat permaisuri istana kecil..De’ Asri
Puisi yang sungguh bermakna
dan, Salam Kenal Mas.
Salam kenal pula Mas Rangga,
Aku sudah mampir kblogmu, cuma sorry belum tinggalin komentar..
Thanks ya & Salam Sejahtera,
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk sahabatku sayang
Kang Boed piye kabar’e…damang..?
Thanks udah sempat singgah ,
salam sejathera.
@Kang Pambudi : Aku sama Maren Kitik Kitik itu baru kenalan sekitar tiga hari. He he he, entah kenapa dia bisa jadi buntut-buntutan dengan aku.
@ Mas Lovepass: Tiga hari aja udah sering debat..tapi mesra loh..wkwkwkwkwk
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk sahabatku yang terchayaaaank
Memang bener yang pikir sama dgn yg gue pikir, gue mau tanya dikit dari semua yang lu tulis pastinya Tuhan yang utama dan terutama kan, kalo semua buat Dia dan untuk Dia..gue yakin lu sukses dunia akhirat ameenn..wasalam
@ Kang Boed : Kang, kok sekarang komen-nya jadi simple2 aja..hehe
@ Ebot : Sobatku, proses perjalanan hidupku yang dulu sbg ” Anak2 Jalanan ” banyak menginspirasi tulisan2 ku. Aku belum yakin masuk surga hanya karena menulis renungan yg indah2 , namun masih belum banyak karya nyata bagi sesama.
Mencintai Tuhan berarti hubungan Vertical kita dengan Tuhan , dan hubungan Horizontal kita dengan sesama. Mengasihi Tuhan berarti mengasihi saudaraku yang paling hina di dunia ini.
Salam Sejahatera buat keluarga semua, Thank atas waktu nya untuk singgah Bot..
puisinya bagus
wah suka puisi juga toh
sama donk
Salam semangat
@maren
mmhhh..ternyata maren suka puisi ya….monggo kang..tak uber2 g ketemu juga..
SALAM KENAL semua..:D
=========================================================
Salam kenal juga bung Yos,
Terima kasih atas lawatannya